This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label IBADAH. Show all posts
Showing posts with label IBADAH. Show all posts

Thursday, 1 October 2009

Amal di Bulan Syawal

Amal di Bulan Syawal <<>>
Saat-saat yang paling sulit adalah setelah seseorang mencapai puncak performa. Bisakah ia bertahan dengan kebaikan-kebaikannya atau justru jatuh meluncur dan seketika sudah berada di titik terendah kehidupannya. Maka, seperti kata Anis Matta dalam buku Delapan Mata Air Kecemerlangan "Persoalan paling berat yang kita hadapi sesungguhnya bukanlah mendaki gunung, tetapi bagaimana bertahan di puncak gunung itu hingga akhir hayat."

Ini tidak hanya berlaku dalam keseluruhan akumulasi usia kita. Tetapi ia juga berlaku dalam setiap rentang masa tertentu. Siklus tahunan adalah salah satunya. Dan, kita sering tidak mampu mempertahankannya di sini.


Satu bulan yang lalu, sepanjang Ramadhan banyak orang yang tiba-tiba mengalami perbaikan signifikan. Ada peningkatan drastis dalam ibadahnya; secara kuantitas dan secara kualitas. Maka, kita dapati tiba-tiba kita bisa mengkhatamkan Al-Qur'an dua kali, qiyamullail setiap malam, dzikir, sampai perasaan taubat yang menggebu-gebu. Semua itu baik dan tidak ada yang salah dengannya. Tetapi yang menjadi persoalan adalah setelahnya.

Setelah kita mengkhatamkan Al-Qur'an dua kali, setelah qiyamullail rutin setiap malam, setelah dzikir begitu lama, setelah perasaan taubat menggetarkan jiwa, lalu kita tiba-tiba terjatuh, drop, turun seketika. Bahkan di awal-awal bulan syawal penurunan itu sudah terasa. Dan semakin jauh dari Idul Fitri kualitas ibadah juga semakin jauh dari "puncak performa".

Sesungguhnya, diantara tanda keberhasilan Ramadhan bagi seorang muslim adalah tatkala ia membawa kebaikan-kebaikan dan peningkatan ibadah di bulan mulia itu ke dalam bulan-bulan setelahnya. Inilah yang sering disebut "meramadhankan semua bulan". Bulan syawal yang artinya peningkatan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas itu. Setidaknya dipertahankan. Ini memang sulit. Bahkan sangat sulit. Tetapi jika kita ingin menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa memperbaiki diri dan mendapatkan cinta Allah SWT, tidak ada pilihan lain. "Amal yang paling dicintai Allah adalah (amal) yang dikerjakan pelakunya secara rutin meskipun sedikit." (HR. Muslim)

Inilah persoalan kita. Bagaimana agar kita tetap mampu bertahan di "puncak". Tidak turun drastis, apalagi terjun bebas dan tenggelam dalam keburukan. Maka, berbahagialah mereka yang mampu bertahan dalam kebiasaan tilawahnya. Berbahagialah mereka yang mampu bertahan dalam dzikir dan tafakurnya. Berbahagialah mereka yang mampu bertahan dalam kebiasaan qiyamullail, shalat sunnah, dan sedekahnya. Berbahagialah mereka yang menyucikan jiwanya, "Qad aflaha man zakkaahaa". [Muchlisin]

http://muchlisin.blogspot.com

Tuesday, 23 June 2009

“Profesional Itu Tuntunan Islam”

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu(kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi

QS. Al- Qoshos(28) ayat : 77

“Jangan melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi” sangat jelas bukan, bahwa Allah menghendaki hamba – Nya yang berislam agar jangan hanya mengharapkan syurga di akhirat kelak. Tapi juga mengambil bagian dari kesejahteraan hidup didunia. Salah satu diantaranya tentu saja soal kecukupan pemilikan materi.

Sementara kita tahu untuk memperoleh materi berkecukupan, diperlukan dukungan ilmu yang memadai. Tanpa ilmu yang produktivitas karya akan rendah. Tanpa produktivitas, maka mustahil akan memperoleh penghasilan yang memadai. Pedagang misalnya. Maka mesti menguasi ilmu dan seni berdagang, sehingga dagangannya bisa laku. Pebisnis juga perlu dukungan ilmu. Tanpa ilmu bisnisnya akan sulit untuk berkembang. Untuk menjadi professional yang ahli dalam bidangnya, tentu mempersyaratkan dukungan penguasaan ilmu yang memadai. Demikian seterusnya untuk jenis pekerjaan apapun. Tanpa dukungan ilmu dan keahlian, maka ummat islam hanya akan menjadi bagian – bagian tidak penting dari roda perputaran ekonomi.

Seperti menjadi buruh di pabrik – pabrik. Tentu saja ilmu dan seni dalam dunia kerja yang dimaksudkan disini tidak selalu identik dengan ilmu yang diperoleh dilingkungan pendidikan formal.

Tentu saja kita mesti mengingatkan diri sendiri agar tidak memahami firman Allah di atas dengan sepotong – sepotong . Spirit untuk meraih kesejahteraan akhirat dan duniawi harus menjadi satu paket. Dan spirit meraih impian kesejahteraan akhirat harus didahulukan, dinomor-satukan. Jangan dibalik – balik menjadi kesejahteraan dunia yan utama, lalu akhirat menjadi nomor dua.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh – sungguh (urusan yang lain) ”

(QS. Alam Nasyrah (94) ayat : 7)

Wednesday, 3 December 2008

IDHUL ADHA

Oleh : M. FARID ANWAR

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah[*].Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus[**]. (QS. Al – Kautsar : 1 - 3)
[*] Yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan Qurban dan mensyukuri nikmat Allah.
[**] Maksudnya terputus di sini ialah terputus dari rahmat Allah.

Idul Adha atau Hari raya Qurban, merupakan ulangan peristiwa berasal dari ketulusan dan pengerbonan dua hamba Allah Sang Utusan. Ismail dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian” (QS. Ash – Shaaffat : 108)

MUARA SEJARAH
Nabi Ibrahim as sebagai seorang Nabi sangat membutuhkan seorang penerus. Oleh karena itu, beliau selalu memohon agar dikaruniai seorang anak putra yang sholeh. Dalam berdo’a beliau tidak sekedar meminta seorang putra, namun dilengkapi pula dengan presikat sholeh. Do’a ini perlu dan bisa diamalkan dalam keseharian agar kelak orangtua tidak mengalami kesulitan dalam mengasuh dan membesarkan. Lebih – lebih kelak agar bermanfaat bagi kehidupan.
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash – Shaaffat : 100)

UJIAN DATANG
Dalam menapaki hidup tidak mesti selalu mulus dan menyenangkan, termasuk Nabi Ibrahim as. Setelah do’anya dikabulkan dan terlahir seorang putra nan rupawan (Ismail) dengan penampilan akhlaq yang menawan. Selalu taat dan patuh pada orangtua dan tekun ibadahnya dalam keseharian.
“Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar[*].”
[*] Yang dimaksud ialah Nabi Ismail a.s. (QS. Ash – Shaaffat : 101)
Ketika Ismail tumbuh dewasa, ujianpun tiba. Nabi Ibrahim as diperintah untuk menyembelihnya lewat wahyu berupa mimpi yang diterimanya.
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". “(QS. Ash – Shaaffat : 102)
Dengan tabah keduanya melaksanakan perintah kerena datangnya jelas dari perintah Allah Ta’ala. Walau mungkin agak berar dirasa, namun itulah bukti iman dan taqwa. Lebih mengutamakan kesabaran dan ketaatan semata kepada Sang Kholik penciptaNya.
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim” (QS. Ash – Shaaffat : 103-104)

BERKAT TAAT DAN SABAR UJIANPUN TERLEWATKAN
Berkat keikhlasan dan kesabaran, ujian nan berat terlewatkan. Ternyata perintah penyembelihan yang diperintahkan, hanya merupakan test ketaatan dalam menepis kecintaan terhadap hal – hal yang menjadikan hati terlampau cinta terhadap kebendaan.
“Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[*] Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar[**].” (QS. Ash – Shaaffat : 105-107)
[*] Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.
[**] Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari raya haji.

PERINTAH PENYEMBELIAHAN DIBAKUKAN
Dari ketauladanan Nabi Ibrahim, perintah penyembelihan dilanjutkan untuk umat kemudian. Qurban merupakan tanda kecintaan kepada Allah. Apapun yang menjadi kecintaan, bila perintah Allah dating, maka harus diutamakan. Walau nafsu terasa berat untuk melaksanakan. Nafsu kebendaan perlu ditekan dan dikendalikan agar jiwa menjadi sehat dan tanggap pada lingkungan.
“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".”
(QS. Ash – Shaaffat : 108-109)
Pada ayat pembuka jelas Allah mengingatkan, betapa banyak kenikmatan dicurahkan oleh Allah Yang Maha Rohman, tiada terbilang dan sulit diperhitungkan. Maka perintah sholat dan berqurbanpun difirmankan seiring sejalan. Ini artinya bila sholat sudah ditunaikan, ia harus sanggup dan mengiringinya dengan melepaskan kekikiran / kebatilan yang merupakan penyakit jiwa yang dikendalikan setan. Penyakit yang sangat merugikan bagi kehidupan insane, sehingga jiwanya terasa sempit dan tertekan karena larut dalam kekikiran.

ANCAMAN BAGI YANG TIDAK BERQURBAN
Begitu sinisnya Nabi SAW terhadap orang yang mampu namun tak melaksanakan Qurban. Sehingga beliau mengecam dan melarang untuk mendekati musholla. Ini pertanda beliau SAW dangat tidak suka kepada orang berjiwa bahil alias terlampau cinta pada harta.
Dari Abu Hurairah ra katanya : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mampu berqurban, tetapi tidak mau berqurban, maka janganlah mendekati mushollaku”.
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Hakim)

QURBAN DISYARIATKAN TIAP TAHUN
Ada yang salah pengertian dikira qurban hanya diperintahkan satu kali seumur hidup. Ini pemahaman yang perlu diluruskan. Qurban disyariatkan tiap tahun bagi yang mampu, karena ia merupakan rangkaian peribadatan Idul Adha.
Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya. Dan siapa yang menyembelih setelah sholat dan dua khutbah, sungguh ibadahnya ia telah sempurnakan dan ia mendapat sunnah kaum muslimin”
(HR. Bukhori dan Muslim)

SEEKOR KAMBING UNTUK SEKELUARGA
“Pada Zaman Rasulullah orang berqurban dengan seekor domba untuknya dan untuk keluarga seisi rumahnya. Mereka memakan dan mereka berikan kepada orang lain sampai manusia merasa senang (lega), sehingga mereka menjadi seperti yang kau lihat.”
(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Jadi Qurban secara urunan yang dilaksanakan pada murid disekolahan pada hakekatnya bukan qurban sebenarnya. Namun ini baik dalam rangkah mendidik anak – anak agar kelak ingat dan dapat melaksanakan Qurban.


SATU EKOR SAPI UNTUK 7 ORANG
Diriwayatkan oleh Jabir, berkata :
“Kami menyembelih Qurban bersama dengan Nabi di Hudaibiah, seekor untuk tujuh orang, begitu juga sapi” (HR. Muslim Abu daud dan At Trimidzi)

HEWAN QURBAN HARUS SEHAT TAK TERCELA
Qurban harus dilaksanakan secara sempurna, termasuk dalam memilih ternak Qurban.
Dari Barra’ bin Azib ra berkata, Rasulullah SAW berdiri diantara kami dan bersabda, “Empat jenis (binatang) yang tidak boleh dijadikan Qurban :
1. Yang buta sebelah matanya 2. Yang positif sakit 3. Yang positif pincang 4. Yang sudah tua dan sudah tiada bersumsum “
(HR. Ahmad dan Imam yang empat serta dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

ALLAH TIDAK BUTUH DAGING QURBAN NAMUN KETAQWAAN
Tuntunan agama islam berbeda dengan agama lain, Hasil Qurban tidak dipersembahkan kepada Tuhan, namun untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Disini kelebihan dari ajaran islam, bukti ketaqwaanlah yang jadi acuan.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al – Hajj : 37 )

PUASA ARAFAH 9 DZULHIJJAH
Dalam rangkaian hari raya Qurban, ada tuntunan yang mengirinya yakni puasa arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Walaupun sunnah hukumnya mari menunaikannya, karena besar keutamaannya.

Dari Abi Qatadah, ia memberitakan bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari arafah, meka beliau menjawab itu melebur dosa –dosa yang telah lalu dan yang akan datang. (HR. Muslim )

WAKTU PENYEMBELIAN
Pada umumnya banyak yang menyangka, bahwa waktu penyembelian hanya 10 Dzulhijjah, seusai sholat idul adha saja, Padahal masih ada waktu lagi yakni pada hari tasyrik : 11,12,13 Dzulhijjah. Semoga kita dikaruniai rizki oleh Allah agar dapat melaksanakan Qurban tiap tahun Amin

Wednesday, 10 September 2008

KAOS OBLONG atau BAJU TAQWA (SOPAN)

IBARAT orang sedang jatuh cinta, maka ia selalu rindu dan siap berkorban. Demikian pula seorang muslim, ia akan senantiasa merindukan masjid yang dicintainya. Berikut ini salah satu ciri – ciri orang yang mencintai masjid baik sebagai pengurus maupun jamaah masjid yang disarikan dari buku panduan Memakmurkan masjid dan Mencintai Masjid karya Drs. H. Ahmad Yani.

Ciri – ciri ini tercermin dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist

 Memakai Pakaian yang Baik / Sopan

Allah berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid…”(QS. Al-A’raf (7) ayat 31)

Karena kita mencintai masjid, maka hendaklah kita memperhatikan busana yang kita kenakan saat berada di dalam rumahNya. Selain itu, Nabi saw. Menganjurkan umatnya memakai wangi – wangian jika berada di masjid.

Betapa banyak kita lihat dan bisa kita bandingkan dalam kehidupan sehari – hari, banyak orang yang punya niat pergi ke resepsi (pernikahan, Khitanan, atau diundang Bapak presiden dll), maka akan mempersiapkan jauh – jauh hari untuk memilih pakaian yang terbagus yang kita meliki bahkan kalau perlu beli baru.Sedangkan kalau kita pergi ke masjid untuk menghadiri pengajian, sholat yang itu hakikatnya merupakan undangan dari yang nyawa kita berada dalam genggamanNya, cukup hanya memakai kaos oblong.

Ibrah / pelajaran yang bisa kita ambil dari sekelumit artikel diatas adalah :
1. Kita mengaku Yakin dan Cinta kepada ALLAH SWT., sudahkah kita melaksanakan dan mempraktekkan ayat di atas
2. Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi yang lebih baik
3. Tiada hari tanpa perbaikan diri (Introspeksi / koreksi diri)

Tuesday, 29 July 2008

Profesionalitas dalam berdakwah

***Diambil Dari Novel "Ayat-Ayat Cinta"***


Sepenggal episode perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW. ke Madinah. Ketika
akan berangkat hijrah ke Madinah beliau diberi seekor onta oleh Abu Bakar ra. Namun
beliau tidak mau menerimanya dengan cuma-cuma. Beliau mau menerima dengan syarat onta
itu beliau beli. Abu Bakar inginya memberikan dengan cuma - cuma untuk perjalanan hijrah Nabi.
Tapi baginda Nabi tidak mau beban tidak mau menggunakan kesempatan pengorbanan orang lain.
Abu Bakar punya keluarga yang harus di hidupi. Dakwah harus berjalan profesional meskipun
pengorbanan -pengorbanan tetap diperlukan. Dan Nabi mencontohkan profesional dalam berdakwah.
Beliau tidak mau menerima onta Abu Bakar kecuali dibayar harganya. Mau tak mau Abu Bakar pun mengikuti
keinginan Nabi. Onta itu dihargai sebagaimana umumnya dan Baginda Nabi membayar harganya. Barulah
keduanya berangkat hijrah. Itulah pemimpin sejati. Tidak seperti para kiai di Indonesia yang menyuruh umat
mengeluarkan shadaqah jariyah, bahkan menyuruh santrinya berkeliling daerah mencari sumbangan dana dengan
berbagai macam cara termasuk menjual kalender, tapi dia sendiri ongkang -ongkang kaki di masjid atau di pesantren.

ketika seseorang telah disebut 'Kiai' dia malu untuk turun ke kali untuk mengangkat batu, Meskipun batu itu untuk membangun
masjid atau pesantrennya sendiri. Dia merasa hal itu tugas orang -orang awam dan para santri. Tugasnya adalah mengaji. Baginya,
kemampuan membaca kitab kuning diatas segalanya. Dengan membacakan kitab kuning ia merasa sudah memberikan segalanya kepada umat.
Bahkan merasa telah menyumbangkan yang terbaik. Dengan khutbah Jum'at di masjid ia merasa telang oaling berjasa. Banyak orang lalai,
bahwa Baginda Nabi tidak pernah membacakan Kitab kuning. Dakwa Nabi dengan perbuatan lebih banyak daripada dakwah dengan khutab atau
perkataan. Ummul Mu'minin, Aisyah ra. berkata "Akhlaq Nabi adalah Al-Qur'an!" Nabi adalah Al -Qur'an berjalan. Nabi tidak canggung mencari kayu
bakar untuk para sahabatnya. Para sahabat meneladanin apa yang beliau contohkan. Akhirnya mereka juga menjadi Al- Qur'an yang menyebar ke seluruh
penjuru dunia Arab untuk di contoh seluruh umat. Tapi memang, tidak mudah meneladani akhlaq Nabi. Menuntut orang lebih mudah daripada menuntut diri
sendiri.

Pelajaran yang dapat di ambil dari cerita diatas adalah :
1. Seorang dai / Ustad harus lebih memberikan contoh perbuatan daripada omongan/khutbah(Dakwah bil Hal)
2. Seorang Dai / Ustad Harus Profesional Dakwah ya Dakwah tanpa membebani orang lain atau muridnya /santrinya
3. Seorang Dai / Ustad pantang menyuruh - nyuruh Santrinya.

Wallahua'lam Bissowaaab