This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Monday, 14 September 2009

Kepompong Ramadhan

Tuesday, 25 August 2009
Oleh : Aa Gym
>>>Download<<<
Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum. Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya (Hr. Bukhari Muslim).

Pernahkan Anda melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang, ulat bulu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama. Pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masulk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain : ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya bagi sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.

Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur'an dan Al Hadits.

Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kemabli adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam 'kepompong' Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan "metamorfosa" dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.

Inti dari ibadah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya." (QS. An Nazii'at [79] : 40 - 41).

Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tidak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan. apalagi seperti halnya hawa nafsu, syetan pun memiliki dimensi yang sama dengan hawa nafsu yakni kedua-duanya sama-sama tak terlihat. "Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala," demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6).

Akan tetapi kita bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karenanya kesempatan seperti ini tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan. Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka ketika syetan dipelas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat. Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

Pada bulan Ramadhan ini, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.

Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang dijalani hidup kita, jangan sampai disia-siakan.

Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah 'kepompong' Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amiin.***

Tuesday, 8 September 2009

HIKMAH PUASA

Dr. Yusuf Qardhawi

>>>Download<<<
Sebagai muslim sejati kehadiran bulan suci ramadhan akan selalu membahagiakan kita. Allah telah menjanjikan ampunan, kemuliaan, dan derajat taqwa di bulan mulia ini. Oleh karena itu ada baiknya kita mencoba membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah ramadhan. Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima hikmah puasa yang bisa kita cermati : 1.Menguatkan Jiwa
Dalam hidup tidak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya.
Padahal dalam islam ada perhatian untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan maka malapetaka besar akan terjadi. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firmanNya yang artinya “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya” (QS.45:23)
2. Mendidik Kemauan
Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh – sungguh dalam kebaikan. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik. Karena itu, Rasulullah SAW menyatakan “Puasa itu setengah dari kesabaran” dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar. Kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit
3. Menyehatkan Badan
Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akam memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah SAW, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli – ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak peril meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa saat – saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan. Di dalam islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.
4. Mengenal Nilai Kenikmatan
Dengan puasa manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa untuk mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur. Allah berfirman yang artinya: “Dan(ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat kepadamu), dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azabKu sangat pedih,” (QS. 14:7)
5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang lain

Thursday, 13 August 2009

JADWAL IMSYAKIYAH RAMADHAN 1430 H

Friday, 7 August 2009

10 INDIKATOR GAGAL MERAIH KEUTAMAAN RAMADHAN

---DOWNLOAD---

“Aduh Ramadhan yang lalu rasanya saya rugi, karena tak mendapat kesan yang mendalam…..”

“Alhamdulillah kalau saya sih bisa I’tikaf penuh sehingga bisa benar – benar enjoy selama Ramadhan kemarin”

“Sebenarnya saya jauh-jauh hari sudah mendambakan Ramadhan yang sukses, tapi banyaknya Tugas Kuliah sehingga di mana – mana ibadah saya keteteran… ”

Itulah beberapa gambaran komentar yang sering kita simak dari para teman – teman kita, para aktifis masjid seputar Ramadhan.

Lalu Bagaimana dengan Anda ???

Betapa banyak orang yang “sukses” tapi sesungguhnya ia telah gagal, Kata Nabi SAW, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa – apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…” (HR. Bukhari Muslim)

Hadist ini merupakan sindiran dan peringatan tentang kualitas ibadah puasa kita yang sekadar meninggalkan makan dan minum saja. Mestinya hadist ini membangkitkan kewaspadaan kita untuk lebih teliti dan berhati – hati serta tidak terjerumus di dalam kesalahan yakni menjalani Ramadhan sekadar upacara ritual tahunan. Masuk tanpa kerinduan, berlalu pun tanpa kesan. Kasihan !!!

Tetapi setindaknya kita perlu berhitung dan memiliki Neraca Indikator agar setiap ibadah kita di bulan Ramadhan benar – benar berbobot, hingga kita bisa lulus dari Madrasah Ramadhan menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Iman meningkat, dan Taqwa pun kita dapat. Sebagaimana kita selalu baca berulang – ulang firman Allah,

“Wahai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa”
(QS. Al-Baqarah ayat 183)

Berikut ini ada beberapa indikasi kegagalan Ramadhan kita, antara lain :

1. Pertama, ketika kita kurang optimal melakukan “Warming up” dengan melakukan ibadah sunnah di bulan Rajab dan Sya’ban

Ibarat sebuah mesin, memperbanyak ibadah sunnah di bulan sya’ban berfungsi sebagai pemanasan bagi kesiapan ruhani, fisik, dan pemikiran memasuki Ramadhan. Berpuasa sunnah, memperbanyak tilawah Qur’an, Salat malam sebelum Ramadhan akan menjadikan suasana hati dan tubuh lebih kondusif untuk menunaikan ibadah di bulan penuh pahala.

Barangkali ini diantara hikmah mengapa jauh – jauh hari sebelum Ramadhan kita di ajarkan oleh para salafus shalih untuk juga melantunkan doa kerinduan dan harapan perjumpaan meraih berkah Ramadhan.
Doa itu adalah “Allahumma baariklanaa fii Rajab wa Sya’ban wa ballighnaa Ramadhaan…Ya Allah berikanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikalah umur kami hingga bulan Ramadhan ”

2. Ketika target pembacaan Al – Quran yang dicanangkan, minimal satu kali khatam tidak terpenuhi selama bulan Ramadhan.

Ini termasuk fatal, sebab di bulan Ramadhan ini pembacaan Al Quran merupakan bentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Bukankah Ramadhan merupakan Syahrul Qur’an ? pada bulan inilah Allah menurunkan wahyu Nya dari Lauhul Mahfud ke langit dunia. Peristiwa ini sering disebut Lailatul Qodar, malam yang penuh kemuliaan. Pada bulan ini pula malaikat Jibril ‘alahis salam biasa mengulang – ulang bacaan Al Quran kepada Rasulullah. Aktifitas ini juga disebut Muraja’ah, yakni mengecek bacaan Al Quran yang sudah diwahyukan.

Bagi kaum muslimin, orang – orang yang beriman, dan orang – orang yang berpuasa di bulan ini sangat dianjurkan memiliki wirid Al Quran yang lebih baik lagi dari bulan – bulan sebelumnya. Kenapa harus mengkhatamkan minimal satu kali sepanjang bulan ini ?

Karena memang itulah target yang diajarkan oleh Rasulullah, ketika Abdullah bin Umar bertanya kepada beliau, “Berapa lama sebaiknya seseorang mengkhatamkan Al Quran? Rasulullah menjawab, satu kali dalam satu bulan,” Abdullah bin Umar berkata, “Saya bisa lebih cepat dari satu kali khatam dalam satu bulan” Rasul berkata lagi, “Kalau begitu, bacalah dalam satu pekan” Tapi Abdullah bin Umar mengatakan bahwa dirinya masih mampu membaca seluruh Al Quran lebih cepat dari satu pecan. Kemudian Rasul mengatakan “Kalau begitu bacalah dalam tiga hari” Dalam Riwayat lain dikatakan. “Janganlah kalian mengakhatamkannya lebih cepat dari tiga hari”

Hal ini karena bisa mengurangi kualitas tilawahnya, kurang memahami sehingga tidak mampu menyentuh jiwa.

Jadi sangat jelas bahwa tilawah Quran harus menjadi agenda atau jadwal khusus bagi seorang muslim apalagi seorang juru dakwah. Misalnya Imam Malik Rahimahullah biasa mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali. Bagaimana bisa? Tentu hafalannya luar biasa,

Kata Usman bin Affan ra. “Apabila hati itu suci, maka ia tak akan pernah kenyang untuk membaca Al Quran”

3. Ketika berpuasa tak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang lain, mengeluarkan kata – kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, menebar fitnah, berdusta dan sebagainya.

4. Ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram.

5. Ketika malam – malam Ramadhan menjadi tak ada bedanya dengan malam selainnya.

Di dalam shalat malam ini Rasulullah juga mengajarkan doa – doa yang insyaAllah diijabahi oleh Allah Azza wa Jalla. Diantara doa yang diperbanyak untuk membacanya dalam shalat terawih adalah “Allhumma inna nas-aluka ridhaaka wal jannah wa na’udzubika min sakhatika wan narYa Allah, kami mohon keridhaan-Mu dan Surga-Mu. Dan kami mohon perlindungan dari kemarahan-Mu dan dari nerake-Mu..Allahummaa innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni…Ya Allah sesungguhnya Engkau maha Pengampun menyukai pemberian ampunan, maka maafkanlah aku…

6. Jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang.

7. Ketika bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah

8. Ketika hari – hari menjelang Idhul Fitri lebih sibuk dengan persiapan lahir dan tidak sibuk memasok perbekalan ruhani sebanyak – banyaknya pada 10 malam hari terakhir untuk memperbanyak ibadah.

9. Ketika Idhul fitri tiba dirayakan laksana hari merdeka, seperti orang yang keluar dari penjara dan kembali melakukan berbagai kemaksiatan dan penyimpangan.

10. Setelah Ramadhan nyaris tak ada ibadah yang ditindak lanjuti(follow up) pada bulan selanjutnya

Untuk mengantisipasi kegagalan tersebut sesungguhnya sejak awal harus ditanamkan bahwa amaliah Ramadhan satu bulan penuh itu mestinya menjadi pemasok, bahan bakar ruhani agar keimanannya tetap menyala dan menggelora dan semakin meningkat di sebelas bulan ke depan.

Namun orang akan gagal meraih energi dan keutamaan Ramadhan saat ia tidak lagi berupaya menghidupkan dan melestarikan amal – amal ibadah yang pernah dijalankan dalam satu bulan.

Semoga Ramadhan masih menjadi prioritas agenda untuk kita perhatikan.

Wednesday, 5 August 2009

RAMADHAN ADALAH MOMENTUM, JANGAN DI LEWATKAN !!!

-----DOWNLOAD-----
Menurut riwayat Ahmad dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW senantiasa menyongsong kedatangan bulan Ramadhan dengan berita gembira kepada para sahabatnya seraya bersabda,

“Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan. Allah memfardhu-kan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh syetan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu, maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebaikan.”

Di sini Rasulullah menemukan momentum. Sebab itu bulan ini segala kebaikan disediakan Allah. Kesempatan berbuat baik di buka lebar – lebar, plus janji bonus pahala berlipat ganda. Di dalamnya ada sebuah malam yang nilai ibadahnya lebih baik daripada seribu bulan. Singkatnya, di sinilah Allah membentangkan suasana kondusif yang akan mengantarkan kita menjadi Insan kamil yang muttaqin.

MOMENTUM PAHALA

Sungguh tak seorang pun yang menyia-nyiakan kesempatan panen pahala pada bulan ini, kecuali mereka yang telah benar-benar meredupkan cahaya hidayah dan keimanan di dalam hatinya.

Itulah seseorang yang dalam dadanya tak ada lagi secuil cahaya Al-Qur’an yang bersemayam di dalamnya. Rasulullah mengibaratkan ia seperti rumah kosong yang roboh.

“Sesungguhnya seseorag yang di dalamnya, tak ada lagi secuil cahaya Al-Qur’an niscaya ia ibarat rumah kosong yang roboh”
(HR. Tirmidzi)

Padahal Ramadhan adalah momentum pahala yang luar biasa. Tak ada satu bulan pun yang melebihi keutamaan bulan ini. Kerena di dalamnya ada momentum pahala yang berlipat ganda terbentang sepanjang detik, jam, hari, pecan hingga selama satu bulan. Dari Abu Hurairah ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (terawih) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”
(Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat yang lain juga kelanjutan hadist tersebut, Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa melakukan syiyam Ramadhan dengan penuh keimana dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”
(Muttafaqun ‘alaih)

Jadi syiyam dan qiyam, semuanya peluang untuk meraih momentum pahala yang berlipat ganda. Bahkan Allah memberikan ganjaran khusus.

Dalam hadist qudsi ditegaskan bahwa puasa itu ibadah yang “pahalanya khusus” dari Allah. “Ash-shoumu lii …wa Ana ajzi bihi… puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan pahalanya”

MOMENTUM PENERAPAN SYARIAH

Kita tentu merindukan tegaknya syariah, karena syariah bagitu indah. Hidup begitu mulia dan suasana aman, tenteram, sentausa, dan sejahterah. Betapa kondusifnya bulan ini bagi pembinaan diri, keluarga dan masyarakat. Karena di bulan suci ini momentum kebersamaan dan kekompakan keluarga serta masyarakat dalam menegakkan syariah Islam yang diejawantahkan secara sempurna. Seperti sahur bersama, berbuka bersama, shalat terawih berjamaah, dan I’tikaf bersama.

Namun sayang, itu semua yang merupaka embrio bagi diterapkannya syariah dalam kehidupan masyarakat, kembali layu seiring berakhirnya Ramadhan. Sayang memang.

Padahal apabila kebersamaan itu dilakukan denagn benar dan niat ikhlas semata – mata karena Allah, niscaya akan memberikan pengaruh psikologis yang luar biasa kepada individu, keluarga, pergaulan dan masyarakat di sekitar kita. Kerena kebersamaan dan keberjama’ahan itu sangat besar pengaruhnya dalam menentukan kemampuan kita untuk beristiqomah. Kebersamaan akan meningkatkan keimanan di tengah pasang surutnya fluktuasi keimanan kita kepada Allah Azza wa Jalla.

Maka bila kita rindu syariah, rindu syurga, di sinilah pentinganya kita memulai penerapan syariah islam dalam sebuah masyarakat secara riil melalui amaliah Ramadhan. Syariah benar-benar akan menjadi pagar hidup bagi masyarakat, menghindarkan dari kehinaan hawa nafsu dan kenaifan syaitaniyah yang destruktif. Nyatanya, suasama nyaman bersyariah Islam itu telah begitu indah kita rasakan sepenuh bulan. Bulan yang penuh berkah untuk meraih sukses dunia dan akhirat. Maka, sekaranglah saatnya kita “Tegakkanlah daulah Qur’an di hati kita agar tertegak di bumi kita….” Demikian pesan seorang ulama.

MOMENTUM DO’A

Bukankan kita sudah sering berdoa? Apakah kita belum merasakan dikabulkannya do’a kita ?

Maka bulan ini, do’a menemukan momentumnya yang luar biasa. Ada banyak waktu – waktu mustajabah tersedia. Ada aneka doa aplikatif yang bisa direncanakan. Ada kesempatan – kesempatan emas yang terlalu saying untuk dilewatkan. Ada malam – malam penuh pengabulan doa yang terlalu indah untuk diabaikan. Ada saat berbuka untuk berbagi rasa dengan sesama sekaligus mempererat ukhuwah serta sarana untuk mengabulkan doa. Ada saat – saat menahan lapar dan haus agar jiwa tidak semakin rakus. Ada saat menahan gejolak nafsu gejolak seksual untuk mengangkat harkat dan martabat bahwa kita adalah manusia.
Bila kita mampu menggunakan momentum prima tersebut untuk berdoa, tentu hati tak kecewa, jiwa tak merana dan kegelisahan pun sirna. Mari rencanakan doa – doa kita, wahai saudara – saudara yang kucinta.

MOMENTUM CINTA

Ramadhan adalah bulan pilihan. Diciptakan oleh Allah untuk manusia karena Allah amat cinta kepada kita Mengapa ?
Kita adalah umat yang lemah. Pendek umurnya. Lemah fisiknya. Sedikit ketaatannya. Rasa malas lebih sering mendominasi jiwa. Kalau sendiri gampang berbuat dosa. Barulah kalau bersama – sama kita lebih bergairah. Atas dasar cinta Allah ciptakan manusia yang suka berkeluh kesah. Lalu Allah anugerahkan bulan penuh pahala berlipat ganda agar manusia menghayati dan mengamalkan banyak ibadah didalamnya.

Maka balaslah cinta Allah untuk memuaskan cinta kita. Seperti membaca Al-Qur’an. Itu adalah bentuk ekspresi cinta kepada “surat dan ayat” dari sang Kekasih yang telah Dia kirimkan. Mengapa tak kit abaca jua ? atau Qiyamullail. Itu adalah oase untuk menebus kerinduan dan mereguk kenikmatan hingga saatnya meraih syurga yang dijanjikan.

Di bulan suci ini cinta kita diuji. Apakah kita masih egois mementingkan diri ataukah terpanggil mendidik anak istri serta menyantuni fakir miskin yang sering mengitari ? Cinta kita diuji apakah harta – harta duniawi yang lebih kita sukai ataukah beribadah dan berinfaq di jalanNya meraih ridho Ilahi ?

Saudaraku, mari benar – benar memanfaatkan bulan ini dengan aneka momentumnya. Ramadhan adalah momentum langkah. Ia sekaligus sebagai bulan pendidikan, syahrut tarbiyah dan bulan penuh maghfirah.

Saudaraku, gunakan momentum ini. Siapa tahu barangkali ini momentum terakhir kita. Karena itu persiapkan diri, lakukan manajemen diri antisipasi terhadap hal – hal yang tak kita ingini.

Semoga Allah memberi kekuatan kita menggunakan momentum ini sepenuh hati.

Friday, 24 July 2009

TARHIB RAMADHAN, BERSIAP MENYAMBUT RAMADHAN

---Download---

Segala puji hanya milik Allah semata.
Setahun sudah tidak terasa dan tiba-tiba kita sudah berada di penghujung bulan Sya’ban. Dengan berakhirnya bulan Sya’ban ini berarti kita akan memasuki bulan Ramadhan yang suci dan mulia. Ketika bulan Sya’ban akan berakhir dan Ramadhan segera menjelang, RasuluLlah SAW memberikan bekalan rohani kepada para sahabat mengenai bulan suci Ramadhan.
PERSIAPAN MENJELANG RAMADHAN

Para sahabat RA membagi waktu dalam setahun ini menjadi dua bagian, enam bulan menjelang Ramadhan, mereka sibuk untuk melakukan persiapan menjelang Ramadhan, enam bulan setelah Ramadhan mereka gunakan untuk mengevaluasi dan memohon pada Allah agar amal ibadah di bulan Ramadhan tersebut dapat bernilai dan diterima oleh Allah. Untuk itu pula kita kaum Muslimin sudah selayaknya bersiap-siap pula di dalam melakukan penyambutannya.
1. Jadikan kedatangan bulan Ramadhan selalu menjadi momen yang sangat khusus. Kita berikan persiapan khusus pula di dalam menyambut kedatangannya seolah-olah kita tidak akan pernah lagi bertemu dengannya tahun yang akan datang.
2. Kita perbaharui niat dan komitmen kita masing-masing. Kita ingat-ingat lagi, apa yang sudah kita lakukan setahun yang lalu. Amalan-amalan baik apa saja yang bisa kita jadikan gacoan di dalam menghadap kepada Allah. Kita berniat untuk menjadikan bahwa Ramadhan tahun ini haruslah lebih baik dari tahun lalu dan menjadi Ramadhan yang terbaik dalam umur hidup kita.
3. Untuk itulah mulai saat ini kita harus menjagai diri dari apa pun yang Allah haramkan. Kita kurangi menonton tayangan hiburan yang melenakan kita baik melalui media TV, radio, internet ataupun yang lainnya. Tidak perlu kita menonton TV sampai larut malam. Lebih baik kita isi dengan membaca Al-Qur-an atau berzikir. Bagaimana mungkin kita membiarkan malam-malam kita diisi dengan tidur pulas sedangkan Allah menyiapkan sepertiga malam terakhir menjadi saat yang disukai Allah.
4. Usahakanlah untuk mulai shaum (menahan diri) dari apa pun yang tidak disukai Allah. Allah Maha Melihat perjuangan kita. Kita harus berupaya agar Allah Yang Maha Menyaksikan benar-benar melihat diri kita menjadi orang yang bersiap-siap menyambut jamuan Allah. Kita akan senang jikalau orang yang akan kita jamu datang dalam keadaan siap.
5. Mulai saat ini, hindari telinga kita dari sesuatu yang tidak layak kita dengar. Bahkan kita hadirkan kaset-kaset murottal (tilawah) al Qur-an di samping kita. Kita isi digital player kita dengan al-Qur-an yang di jaman sekarang bisa kita dapatkan atau kita download dari internet semisal dari http://english.islamway.com/sindex.php?section=erecitorslist yang bisa kita pilih sesuai dengan selera kita. Kita latih dan kita biasakan telinga kita untuk senang dan nyaman serta tenteram bila mendengarkan alunan tilawah al Qur-an.
Kita budayakan pula di kendaraan yang kita tumpangi baik di kereta, di bus atau di angkutan kota yang kita kendarai apalagi di mobil pribadi kita dengan mendengarkan alunan tilawah al Qur-an. Di tempat pekerjaan, di kantor ataupun di kampus pun, jam istirahat kalau perlu untuk mendengarkan tilawah dengan memperhatikan etika ubtuk tidak mengganggu orang lain.
6. Dari budaya mendengarkan, kita tingkatkan menjadi budaya membaca. Bukankah besar sekali pahala yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang membaca al Qur-an. Kemana-mana, di tas atau di saku kita, al Qur-an selalu tidak lupa menjadi barang yang tidak lupa untuk kita bawa. Kalau belum bisa membaca al Qur-an, kita canangkan dalam diri kita bahwa Ramadhan tahun ini untuk kursus membaca al Qur-an. Yang sudah bisa membaca, kita niatkan untuk mengkhatamkannya, insya Allah. Bahkan keluarga kita pun tidak luput. Istri, anak-anak kita dan anggota keluarga yang lain untuk kita latih berinteraksi dengan al Qur-an. Pokoknya kita jadikan slogan diri kita, �Tiada hari tanpa al Qur-an�. Karena di bulan mulia inilah, al Qur-an yang suci dan mulia diturunkan.
7. Menjelang Ramadhan, dekatkanlah segala sesuatu yang akan membuat kita akrab dengan Allah. Selain Al-Qur-an siap di tas, di meja kerja, dan di kamar tidur agar kita bisa dengan mudah membacanya, begitu juga dengan buku-buku tentang keutamaan bulan Ramadhan.
8. Usahakan untuk sehemat mungkin berkata-kata yang tidak perlu, apalagi perkataan yang disertai ghibah (Jawa: ngrasani) atau fitnah. Untuk apa menambah-nambah kekotoran diri dengan kata-kata yang tidak berguna. Berkatalah benar atau diam, sehingga tiada terucap dari lisan ini kecuali kata-kata yang disukai Allah.
9. Di samping itu, siapkan rumah kita menjadi rumah yang penuh berkah di bulan Ramadhan. Kita harus mulai melihat, tidak ada yang haram di rumah kita. Bukalah lemari kita, kalau ada yang diragukan segera keluarkan. Lihatlah dapur kita, kalau ada barang yang kita ragukan segera keluarkan. Jangan pernah kita dijamu Allah ketika pada diri kita melekat pakaian yang haram.
Lihat perpustakaan kita, apakah masih ada buku-buku yang bukan milik kita? Kalau ada segera kita kembalikan kepada pemiliknya. Sebelum Ramadhan tiba, bersihkan rumah kita agar seluruh penghuni rumah bisa merasa senang dan nyaman di dalam beribadah kepada Allah dan menghidupkan malam-malamnya. Kalau rumah kita kotor dan tidak rapi, selain menimbulkan penyakit juga bisa menyebabkan hati kita cepat menjadi sumpek dan cepat marah sehingga mengganggu kekhusyu�an ibadah shoum kita.
10. Sembari membersihkan rumah, bersihkan pula pikiran dan hati kita dari pikiran negatif. Jangan pernah berpikir benci kepada seseorang karena bisa mengotori hati kita. Mulai saat ini, jadilah orang yang pemaaf. Tidak ada lagi pikiran-pikiran untuk membalas dendam.
11. Ramadhan adalah saat di mana kita menjadi paling dermawan dalam hidup kita sebagaimana Rasulullah menafkahkan rezekinya di bulan Ramadhan. Tidak sulit bagi Allah untuk membalas setiap hamba-hamba-Nya. Janganlah takut bahwa harta kita akan berkurang, karena harta kita yang sesungguhnya di hadapan Allah adalah sebesar infaq yang kita keluarkan di jalan Nya. Sediakanlah anggaran khusus untuk sedekah dan anggaran untuk berbuka bagi orang lain. Satu butir kurma yang kita berikan untuk berbuka, pahalanya sama dengan satu hari saum.
12. Tidak ada salahnya kita berniat sungguh-sungguh di bulan Ramadhan karena menginginkan jodoh, sepanjang kita ingin dijodohkan oleh Allah. Dialah yang menyuruh kita menikah dan Dialah yang menciptakan kita berpasang-pasangan, kepada siapa lagi kita meminta kalau bukan kepada-Nya. Yang pasti, Allah tidak akan mengecewakan kalau kita bersungguh-sungguh kepada-Nya.
13. Alangkah bagusnya apabila kita minta maaf kepada orangtua menjelang bulan Ramadhan. Ziarah ke makam orangtua kita bagi yang sudah meninggal. Minta ampunlah kalau kita belum sungguh-sungguh membahagiakan orangtua kita. Suami-istri juga ada baiknya saling meminta maaf. Tidak ada salahnya minta maaf kepada orang yang lebih muda dari kita, termasuk kepada adik dan anak-anak kita. Minta maaflah dengan ikhlas. Insya Allah, dengan meminta maaf terlebih dulu, kita akan lebih ringan memasuki Ramadhan. Sebaliknya, kita juga harus menjadi pemaaf dengan segera memaafkan orang yang minta maaf kepada kita. �Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan�. (Q.S. Ali Imran [3]:133-134).
14. Buat juga daftar orang yang harus kita kunjungi, seperti kakek, nenek, bibi, dan keluarga kita yang lainnya. Terutama keluarga kita yang sedang berada di rumah sakit. Tiap detik harus jadi kebaikan. Tiada hari tanpa silaturahmi. Termasuk silaturahmi kepada ulama. Kunjungi juga orang-orang dhu�afa yang sengsara dan dililit utang. Mudah-mudahan, Ramadhan kita menjadi penebar rahmat kepada orang-orang yang dhu�afa.
15. Pada saat bulan Ramadhan, jadwal waktu makan kita, tidur dan segala aktivitas kita akan berubah, yang secara otomatis akan berpengaruh dengan tubuh kita, oleh karena itu dibutuhkan persiapan fisik yang prima sehingga perubahan jadwal aktivitas tersebut tidak mengurangi etos kerja kita. Janganlah puasa Ramadhan ini dijadikan kambing hitam untuk mentolerir penurunan etos kerja kita. Justru, konon tidak sedikit karya-karya yang agung para ulama salaf dihasilkan dan diselesaikan di bulan mulia ini.
Kaum muslimin, para pembaca yang dimuliakan oleh Allah, kita tidak akan pernah berjumpa dengan kemudahan ampunan kecuali di bulan Ramadhan ini. Sebanyak dan semelimpah apapun dosa kita, sungguh Allah menjanjikan ampunan-Nya di bulan ini. Kalau kita merasa berat hidup karena lumuran dosa dan maksiat, maka ketahuilah ampunan Allah di bulan Ramadhan lebih dahsyat daripada dahsyatnya dosa-dosa kita. Kalau kita merasa gersang dan kering, maka Ramadhan adalah sarana yang paling cepat untuk mendapatkan rahmat-Nya. Kalau kita dililit utang piutang, maka Allah adalah Dzat Mahakaya yang menjanjikan terkabulnya terkabulnya doa, dilunasi-Nya apa yang kita butuhkan.
Karenanya sungguh sangat rugi andaikata kita tidak bergembira ria, tidak bersemangat dalam menghadapi hidup ini. Ramadhan diawali dengan adzan Maghrib berkumandang, maka itulah saat syetan dibelenggu, dimulainya hitungan pahala amal yang berbeda, dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka. Maka sudah selayaknya kita harus sangat bersungguh-sungguh berharap agar Allah menjamu kita dengan menyiapkan diri jadi orang yang layak dijamu oleh Allah.
�Ya Allah Dzat Yang Mahaagung, jadikanlah Ramadhan kami dan kaum Muslimin tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ya Allah Dzat Mahamulia, anugerahkanlah kepada kami dan kaum Muslimin seluruh keutamaan dan kemuliaan yang ada di dalamnya tanpa kecuali. Amin.
oleh : Ias

Wednesday, 10 September 2008

“ RAMADHAN BULAN TAUBAT “

Ahad, 31 Agustus 08 - oleh : Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bontang

Oleh Eko Prasetyo

Gema Ramadhan berkumandang di mana-mana. Di tiap sudut, baik di kota maupun desa, banyak orang yang larut dalam suasana menyambut datangnya Ramadhan. Kebahagiaan ini juga saya rasakan ketika mendengar suara-suara pembacaan ayat suci Alquran di surau-surau, musala-musala, hingga masjid-masjid. Alhamdulillah.

Ada esensi penting dalam bulan suci Ramadhan. Puasa tidak hanya menyehatkan tubuh, tidak sekadar menahan lapar dari pagi hingga petang. Namun, puasa juga merupakan momen untuk membasuh jiwa dengan mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla, meraih mahabah-Nya.

Rasulullah bersabda, ”Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Al-Bukhari). Dalam hadis lain disebutkan, ”Bau mulut seorang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat dari harumnya misik (minyak wangi yang paling harum di dunia) (HR Al-Bukhari).

Di tengah carut marutnya situasi negeri ini akibat krisis ekonomi yang berlarut-larut, Ramadhan ini sangat menyejukkan. Betapa tidak, selain krisis ekonomi, negeri ini tengah diterpa krisis moral yang sangat mengkhawatirkan karena rendahnya toleransi sosial kepada kaum duafa. Banyak bayi gizi buruk meninggal karena orang tuanya sangat miskin. Beli minyak tanah untuk menanak nasi saja mereka tak mampu, apalagi untuk membelikan bayinya susu. Tak ayal, ketika bahan kebutuhan pokok makin mahal, asupan gizi bagi bayi-bayi orang duafa tak terpenuhi. Maka, banyak pula nyawa balita gizi buruk tak tertolong.

Ya Allah. Harga elpiji kian melambung dan sulit didapat. Selain itu, banyak masyarakat yang mengeluhkan karena langkanya minyak tanah di beberapa daerah. Hal tersebut tentu saja menjadi pemandangan dan fakta yang memprihatinkan. Negeri ini seolah bukan tempat yang nyaman buat orang miskin dan terpinggirkan. Negeri ini seakan tak berpihak pada kaum duafa. Di negeri ini, orang miskin seperti dilarang sakit. Sebab, mereka dinilai tak mampu membayar biaya pengobatan dan rumah sakit. Dengan demikian, banyak kaum papa dan duafa menangis, tak tahu akan mengadu kepada siapa ketika membutuhkan perhatian dan pertolongan.

Di negeri yang kaya sumber daya alamnya ini, ternyata miskin dengan sumber daya pemimpin yang jujur dan amanah. Yang banyak dan sering terjadi justru wakil rakyat dan pemimpin korup. Tak banyak bukti realisasi janji mereka pada saat berkampanye dulu. Di negeri ini, orang miskin semakin tersudut karena kebutuhan akan pendidikan juga tak terpenuhi. Orang miskin seolah dilarang mendapatkan pendidikan yang layak. Betapa tidak, biaya sekolah yang kian mahal tak bisa mereka jangkau. Untuk makan saja sulit, makan sehari dua kali saja sudah untung, bagaimana mereka menyekolahkan anak-anak mereka?

Tak heran, pendidikan gratis dan layak bagi orang miskin menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Janganlah program-program terbaru malah menyulitkan mereka. Ketika menengok seorang kawan di RSU dr Soetomo Surabaya, saya terenyuh melihat banyaknya warga pemegang kartu askeskin yang dirawat di situ. Tak tega saya melihat kenyataan bahwa ada warga yang memilih rawat jalan untuk menghemat biaya. Padahal, saat itu dia diharuskan rawat inap. Tentu, hal tersebut juga banyak terjadi di negara ini. Semua serbaduit. Mau buang air kecil saja bayar, apalagi masuk rumah sakit. Tentu, tidak kecil biaya perawatan di rumah sakit.

Kenyataannya, warga yang memiliki kartu askeskin belum tentu mendapatkan perawatan terbaik. Subhanallah. Sayang, tingginya angka kemiskinan dan kematian bayi busung lapar tidak membuat nurani dan mata hati para elite politik melek. Yang menyakitkan hati rakyat, makin banyak para wakil rakyat yang ditangkap karena terlibat kasus suap dan korupsi. Nilainya tidak main-main, bahkan sampai ratusan juta. Negara dirugikan, rakyat dibohongi. Padahal mereka, para wakil rakyat itu, dibayar dari APBN.

Itu berarti mereka digaji dari uang rakyat. Namun, para wakil rakyat tersebut justru menyelewengkan amanah dan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka. Astaghfirullah. Karena itu, datangnya bulan penuh ampunan ini amat menyejukkan. Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk lebih mendekatkan diri kepada Ar Rahman. Apalagi, di bulan suci ini terdapat malam lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Subhanallah.

Karena itu, Ramadhan adalah momen yang tepat untuk memohon ampunan dengan tobat yang sebenar-benarnya. Mari berlomba-berlomba dalam menebar kebaikan dan mempererat ukhuwah Islamiah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang memohon ampunan-Nya.
Wallahu ‘alam bishshawab