This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label MUAMMALAH. Show all posts
Showing posts with label MUAMMALAH. Show all posts

Thursday, 18 March 2010

Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Benci Manhajnya ?

Seperti minggu sore kemarin, syura’ rutin DPRa di Kantor DPC. Agak Bete sedikit memang, tapi bukan karena bahasan syuranya, seperti biasa lah, selalu ada saja yang disewotin.
“Kenapa akh, dari tadi keliatan agak bete ghitu”, Tanya Ridwan, ketua DPRa, “Ada masalah?”, tanyanya lagi.
“Mba Nilam kemana, abis nikah kok nggak nongol-nongol?”
“Ada urusan keluarga kali, soalnya nggak ada kabar ke ana”, jawab Ridwan singkat.
“Dikerem suaminya kali ya?”, tanyaku polos.
“Astaghfirullah, mana ana tahu akhi. Lagian apa urusan kita terhadap mereka”, sergah Ridwan kepadaku.
“Kayanya kejadiannya bakalan sama seperti ukhti Intan tuh”, tandasku lagi.
“Antum ini ngomong apa sih”, Tanya Ridwan bingung. “Nggak jelas juntrungannya, ana nggak ngerti maksud pembicaraan antum.”
“Iya, mulai dari Ukhti Intan, kemudian Mba Nilam, siapa yang sibuk coba, bantuin mereka ngurusin pernikahannya?”, tanyaku ke Ridwan yang cuma makin bingung dengan ulahku.
“Astaghfirullah, akhi.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), (Qs. Al-Baqarah: 264)

Kok antum masih ungkit itu lagi sih. Kan kita sudah sepakat nggak akan bahas itu terus,” jelas Ridwan yang sepertinya sudah paham maksud kebawelanku.
“Ana sudah nggak tahan. Mungkin Mba Nilam adalah yang terakhir buat ana,” celotehku lagi.
“Maksudnya akhi?” tanya Ridwan.
“Ana janji, ana nggak akan bantuin akhwat manapun jika mereka nikah sama ikhwan Salafy!”, teriakku kesal.
“Loch, memangnya kenapa?”
“Ya, antum sendiri lihatkan. Waktu nikah, yang sibuk itu kita. Boro-boro ada ikhwah Salafy yang mau ikutan bantuin temennya nikah. Udah gitu, setelah mereka jadi nikah, seperti biasa, si akhwat nggak boleh lagi terlibat aktivitas kita,” jawabku dengan nada tinggi.
“Antum nggak boleh gitu akhi. Nggak semuanya seperti itu kok. Itu buktinya si Abu Zainuddin. Nanti jadi sia-sia loch apa yang sudah diamalkan kemarin,” seloroh Ketua DPRaku khawatir.
“Iya, kalau Abu Zainuddin mah nggak usah diomongin. Beliau itu udah the bestnya salafy dech, beda banget. Tapi, kenapa sich, mereka mau menikahi akhwat tarbiyah? Memangnya mereka nggak punya stock akhwat apa? Kalau mereka benci manhajnya, seharusnya mereka benci akhwatnya juga dong!”, teriakku lagi sambil nahan marah.
Ridwan, ketua DPRaku cuma miris dan berkata “Antum nggak boleh gitu akhi.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Mungkin memang sudah jodohnya. Mau dengan Salafy, mau dengan ikhwan tarbiyah, atau mau dengan yang ammah sekalipun, kalau sudah jodohnya, ya mereka pasti akan menikah, kalau Allah sudah berkehendak, mau ditolak bagaimana?”.
“Gini-gini loch akh. Maksud ana, ana nggak habis pikir aja. Kan mereka sebut kita ahlul bid’ah. Dan ahlul bid’ah itu menurut mereka lebih sesat dari ahlul maksiat. Tapi kenapa mereka malah mencari akhwat tarbiyah yang jelas-jelas ahlul bid’ah menurut mereka. Ini yang ana nggak ngerti,” tanyaku panjang lebar.
“Akhi, tidak ada yang memungkiri, akhwat tarbiyah itu sangat militan dalam berdakwah. Kesibukan apapun yang menyertai mereka. Kuliah, kerja atau ngurus keluarga. Kalau sudah panggilan dakwah, pasti mereka kejar. Hijab dan busana muslim yang panjang tidak menyurutkan gerak gesit mereka,” jelas Ridwan santai.
“Jadi itu alasan mereka menikahi akhwat kita?”, tanyaku sewot.
“Akhwat kita?” tanya Ridwan sambil manyun. “Ngaku-ngaku akhwat kita, sembarangan. Nanti dimarahin bapaknya para akhwat baru tau rasa loch.”
“Bukan, bukan itu. Maksud ana akhwat tarbiyah,” sergahku cepat “Tapi pasti ada alasan lain, kenapa mereka lebih senang merampas akhwat tarbiyah dibandingkan akhwat salafy?”.
“Waduh, merampas, kesannya kasar banget. Jangan gitu akhi. Kalau alasan kenapa mereka tidak memilih akhwat salafy, ana tidak tahu, mungkin memang kurang stock?” jawab Ridwan.
“Atau mungkin karena ekstrim juga!?”, timpalku langsung.
“Hush!!! Sembarangan!”, cegah Ridwan atas komentarku.
“Assalamu’alaikum”, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.
“Wa’alaikum salam ustadz. Ana fikir ustadz sudah pulang. Afwan, kita terlalu rame ya?” jawabku spontan atas sapaan salam ustadz Azri, ketua DPC kami yang tiba-tiba keluar dari balik pintu secretariat.
“Hemm… afwan dari tadi ana mencuri-curi dengar sambil senyum di dalam,” selorohnya pada kami sambil ikut duduk di bangku bambu tepat di sebelah kiriku. “Sepertinya seru juga diskusinya,” lanjutnya lagi,”Memang tidak ada habisnya kalau membicarakan salafy”. Aku cuma senyum, agak sedikit malu karena kesewotanku didengar beliau.

“Begini akhi, apa yang sudah akhi Ridwan katakan itu benar, akhwat tarbiyah itu memang super. Tapi kalau mereka kurang stock akhwat ana juga nggak yakin. Apalagi kalau alasannya seperti yang antum omongin tadi. Yang pasti, kemungkinan alasannya, ini pun baru menurut ana loch. Karena seorang yang telah tarbiyah dan telah mengikuti amal jama’i di dalam jamaah ini, yang telah tahu karaktristik manhaj ini dengan baik dan mendalam, selalu berhusnudzan terhadap qiyadah, pasti telah memiliki pondasi yang bagus tentang keislaman mereka. Mulai dari Al-Qur’an dan ulumul Qur’an, Hadist dan ulumul hadits, Aqidah Islam, Fiqih, Sirah, akhlaq, kepribadian muslim, dan lain sebagainya. Belum lagi ditambah dengan materi-materi yang berhubungan dengan pengembangan diri mereka, seperti bagaimana mengelola waktu, bagaimana berkomunikasi efektif, managemen organisasi, urgensi kaderisasi dan lain-lain. Tak ketinggalan sampai kepada pembahasan dakwah dan pemikiran islam serta materi yang membahas social kemasyarakatan.”
“Intinya mah tinggal poles dikit gitu ya ustadz?”, timpalku lurus.
Ustadz Azri cuma senyum denger ucapanku, “Itupun baru tarbiyah tingkat pemula loch akhi. Kalau seluruh kader sabar dalam halaqahnya, pasti mereka menjadi muslim mandiri. Tidak malas-malasan. Kritis. Rajin menghadiri kajian Islam. InsyaAllah, mereka jadi kader sejati, yang tidak mudah terombang-ambing.”

“Oh, gitu ya ustadz”, tanyaku takjub, “Loch, lantas kenapa orang-orang Salafy yang ana temui, sebagian besarnya bercerita bahwa mereka mantan tarbiyah,” timpalku lebih lanjut.
“Coba dech, antum perhatikan. Sebagian mereka, apakah mantan tarbiyah, atau mantan Jamaah Tabligh atau mantan jamaah lainnya. Pasti ceritanya selalu tentang kekurangan. Ya, merekalah orang-orang yang selalu melihat kekurangan yang dimiliki orang lain. Mereka belum paham karakteristik dari tarbiyah itu sendiri. Mereka adalah orang-orang yang tidak sabar. Mereka adalah orang-orang yang selalu membutuhkan motivasi dari luar. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mengembangkan ilmu mereka dengan potensi yang mereka miliki untuk berkontribusi kepada umat. Tapi saksikanlah akhi. Mereka hanya akan ghirah di awal. Mereka tidak akan bertahan lama. Karena hanya sebagian kecil saja dari mereka yang memiliki jiwa ikhlas seperti Abu Zainuddin” jelas Ridwan panjang lebar.

“Sudah akhi Ridwan jangan diteruskan. Tidak baik akhi, ada baiknya kalau kita selalu berusaha untuk membersihkan hati kita” pinta ustadz Azri berusaha memutus penjelasan Ridwan. “Antum sendiri sudah sampai mana materi halaqahnya,” tanya ustadz Azri, ketua DPCku tiba-tiba.

“Ups!”, agak kaget. “Hik..hik.. ana baru enam bulan ustadz, baru juga masuk materi akidah tauhid,” jawabku malu sambil cengengesan. “Ya, kalau boleh dibilang anak ingusan di tarbiyah githu… hehehe…,” ujarku berusaha membela diri.

“Tapi kayanya antum sudah lama ikut aktifitas amal jamai ya?” tanya ustadz Azri kepadaku. “Soalnya ana sering lihat antum di berbagai tempat kegiatan bakti social, nggak cuma di DPRa antum saja?”
“Iya, ustadz, ana sibuk banget. Kerja, dari pagi sampe malem. Maklum kuli.. hehehe… Takut halaqahnya nggak serius, jadi ana fikir biar ana aktif di kegiatan social kemasyarakatannya saja, ternyata tarbiyah point utamanya. Sekalipun agak terlambat, nggak apa-apa lach”

“Nah, ini dia ustadz, salah satu penyebab akhwat-akhwat kita keburu dinikahi ikhwan bukan tarbiyah,” tuduh Ridwan kepadaku.
“Maksudnya?”, tanyaku bingung.
“Ya, antum ini lah salah satu penyebabnya. Sudah kerja, punya kendaraan, manager pula status di kantornya. Masih juga belum mau nikah. Jangan marah dong kalau akhwat tarbiyah dinikahi sama ikhwan salafy. Antum terlalu idealis sih”, tuding Ridwan lagi kepadaku.
Aku makin mati kutu dibilang begitu, “Afwan, afwan akhi, ustadz, ana nggak idealis kok. Ana tidak pernah terpikir, kalau ana punya kriteria khusus terhadap akhwat yang akan ana nikahi. Masalahnya beda. Ini masalah target masa depan. Masa akhwatnya hebat ikhwannya jeblog, nanti ana malu khan. Dan ana juga nggak mau pusing, gara-gara mikirin uang untuk resepsi, untuk lahiran, pendidikan anak, makan sehari-hari dan lain sebagainya,” jelasku membela diri.
“Memang antum usianya berapa sekarang?” tanya ustadz Azri sambil nepuk-nepuk bahuku.
“Seperempat abad lebih dikit ustadz”, jawabku. “Belum tua banget khan?” tanyaku langsung kepada beliau.

Beliau cuma tersenyum dan berkata, “Belum, belum tua kok.” Sementara Ridwan ketua DPRaku sudah pegang perutnya menahan geli.
“Loch, antum kenapa? Kok kayanya geli banget dengar umur ana seperempat abad?” tanyaku ke Ridwan bingung.
Ustadz Azri menepuk lututku, “Dulu, waktu ana nikahi istri ana, ana baru berumur sembilan belas tahun akhi. Masih kuliah di LIPIA” terangnya sambil tersenyum teduh.
“Hah…” ternganga aku sambil takjub. “Sembilan belas tahun! Masih muda banget ustadz. Waduh, ana ketuaan dong ya?”
“Bukan tua lagi mas, udah engkong-engkong,” canda Ridwan sambil terus pegangi perutnya menahan geli dan “Ana aja udah punya anak dua waktu umur segitu”.
“Ya ampun, jangan-jangan hampir sebagian besar ikhwan kita seperti ana kali ya!” sergah aku masih dalam keadaan terkejut. “Pasti ustadz anak orang kaya kan, jadi kalau bingung dengan masalah keuangan tinggal minta bantuan?” tanyaku sambil terus berusaha membela diri.

“Alhamdulillah, ana di Jakarta sendirian akhi. Orang tua ana di Padang Pariaman. Di Kampung. Waktu itu ana tinggal di tempat paman ana. Ya sambil bantu-bantu beliau, ana juga jualan buku-buku Islam sambil kuliah di LIPIA karena ana yakin

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
(Qs. At-Thalaaq: 3)

” jelasnya panjang lebar sambil berusaha meyakinkan aku.
“Waduh, malu banget ana nih ustadz. Ana yakin, ikhwan-ikhwan kita memang terlalu idealis, bertahan dengan kejombloannya, karena terlalu khawatir seperti ana. MasyaAllah….”

“Makanya itu akhi, antum jangan sewot kalau akhwat-akhwat tarbiyah dinikahi ikhwan-ikhwan salafy. Nggak ada pilihan lain, sekalipun mungkin mereka tidak mau, tapi daripada jadi khawatir kali. Mau dibilang apa?” tuding Ridwan lagi kepadaku.
“Ya, iya juga sich, mungkin salah ana juga kali ya,” jawabku lirih.
“Ya, nggak salah antum aja, tapi semua ikhwan tarbiyah yang punya kekhawatiran berlebihan seperti antum, antum niatkan saja untuk segera menikah. Ana ada chanel nih. Antum mau nggak ana kenalin. Mad’unya istri ana,” tawar ustadz Azri serius sambil terus tersenyum, “Kayanya cocok dech sama antum”.

“Aduh ustadz, tapi ana tetep nggak bisa terima. Kalau mereka mau menikahi akhwat tarbiyah, jangan matikan dakwah mereka juga dong. Enggak sopan tuh namanya. Kita yang bangun dia yang nikmatin. Standard ganda banget sich! Manhajnya di benci, tapi akhwatnya doyan! Atau ana aja yang nikahin akhwat Salafy ya ustadz, biar mereka jadi baik hati dan lembut. Kan impas tuch!” ujarku kesel.

“Astaghfirullah akhi, sudahlah, jangan dipikirin yang kaya gitu. Pasti semuanya ada hikmahnya. Baik buat kita maupun buat mereka. Jangan biarkan ketidaksukaan antum terhadap mereka membuat antum tidak adil.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Maidah: 8 )

Kita do’akan, sekalipun mereka tidak beramal jama’i lagi dengan kita, mudah-mudahan ghirah dakwah mereka tidak mati. Ya minimal beribadah untuk suami dan keluarga mereka, kan sama saja, sementara mantan murabiyyah mereka mendapat pahala atas ilmu yang bermanfaat bagi mereka” terang ustadz Azri bijak.
“Iya, ya.. nggak ada untungnya buat ana. Itu sudah menjadi tanggung jawab mereka masing-masing. Mending ana focus ngurusin pekerjaan ana dan dakwah ana di manapun ana berada”, sadarku.

“Jangan lupa! bukan cuma ngurusin pekerjaan dan dakwah aja, tapi tuh, tawaran ustadz Azri diterima nggak, prediksinya cocok sama antum soalnya,” ingat Ridwan sambil rangkul bahuku.
Aku cuma mengangguk tanda setuju, sambil terus menyembunyikan malu.
“Loch, dengan akhwat Salafynya gimana?”, canda ustadz Azri, lanjutnya “Ada-ada aja antum.”Dan aku makin menunduk malu.
Sekian………

Wednesday, 28 October 2009

Istri Sholikha

Istri Cerdik yang sholihah
Penyejuk mata, Penawar hati
Penajam pikiran
Di rumah ia istri
Di jalanan kawan
Di waktu kita butuh ia penunjuk jalan

Pandangan kita diperteguhkan
Menjadikan kita tetap pendirian
Ilmu yang diberi dapat disimpan
Kita lupa ia mengingatkan

Nasihat kita dijadikan pakaian
Khilaf kita ia betulkan
Penghibut di waktu kesunyian
Terasa damai bila bersamanya
Dia umpamanya tongkat si buta
Bila tiada...satu kehilangan
Dia ibarat simpanan Ilmu
semoga tetap kekal untuk diwariskan
(SoffOne Istri Sholikha)



Cinta Kampus : Matlamat Halalkan Cara

Cinta Kampus : Matlamat Halalkan Cara
www.iluvislam.com
Tuan Mohd Reza
Editor: RosNiza Abdullah



Matlamat salah cuba menghalalkan cara.

Melalui hidup sebagai remaja, hidup di universiti yang berjauhan daripada ibu bapa, sedikit sebanyak, tempiasnya akan terkena juga. Terlalu banyak dugaan dalam cinta siswa siswi dan tidak semudah kata-kata untuk memelihara diri. Kehidupan di kampus yang jauh daripada pengawasan keluarga menyebabkan diri mudah terpedaya dengan ajakan nafsu.

Bagi mereka yang sudah terjebak, bukan mudah untuk membuat keputusan yang rasional di saat emosi dan perasaan sedang berkecamuk. Kalau ambil keputusan untuk berpisah, adakah masih ada lelaki lain yang seperti dia? Kalau diteruskan hubungan ini, sanggupkah aku menanggung dosanya?

Tiada siapa yang akan menolong aku kalau bukan aku. Kekuatan itu mesti bangkit daripada dalaman diri sendiri. Jika niat itu sudah nekad, Allah Taala akan permudahkan jalan itu.


Inilah dunia sekarang yang penuh dengan kekeliruan dan jauh daripada penghayatan Islam sebenar. Masing-masing menggunakan agama sebagai pasport untuk membuat kebaikan daripada kaca mata mereka sendiri bukannya apa yang telah digariskan oleh Allah Taala dan Rasul.

Walaupun pada awalnya kita berniat hendak melakukan sesuatu yang baik, tapi mudah sungguh syaitan dan nafsu memesongkan niat suci itu dalam pelbagai cara yang cukup kreatif. Rasanya ramai remaja merasakan perlu kepada teman lelaki atau perempuan yang berlainan jantina merupakan satu ‘keperluan’ untuk rasa sempurna. Tempiasnya terkena juga kepada golongan remaja khususnya siswa dan siswi yang nampak komited pada kerja-kerja dakwah.

Sememangnya manusia lebih terdedah kepada kebaikan yang adakalanya mengaburi mata mereka, walhal perkara itulah sebenarnya yang mengundang malapetaka buat diri mereka sendiri. Begitu payahnya kita mahu membezakan perkara yang baik dan yang benar-benar baik. Apabila kita sudah terhantuk barulah kita baru terngandah itulah sebenarnya kesilapan.

Mereka tahu mereka hidup dalam dosa dan kesalahan, cuma yang penulis tidak faham bagaimana mereka boleh rasa sayang untuk lepaskan pasangan semata-mata mereka rasa dalam perhubungan mereka masih ada kebaikan, bersandarkan kepada sms tazkirah, suruh bangun tahajjud. Bagaimana mereka memandang dan menilai kebaikan?

MATLAMAT HALALKAN CARA

Penulis rasa gusar memandangkan beberapa kes yang banyak berlaku di kalangan mereka ingin membawa Islam, tetapi akhlak pergaulan muslimah dan muslimin tidak dijaga.

Hanya berbekalkan perkataan yang berbentuk perbincangan, jihad, tazkirah, dan mengejutkan untuk ber-tahajjud, sinonim dengan perbincangan berbau Islam mereka anggap hubungan mereka ini sudah diredhai walaupun hanya sekadar bertelefon, sms, e-mail dengan luahan perasaan cinta masing-masing.

Tambahan lagi pengaruh nasyid temporari kini yang hangat mengutarakan lagu cinta sesama muslim menjadi penghangat cinta bagi mereka yang menghalalkan cara.

Segala-galanya adalah mainan perasaan yang kerap melihat kebaikkan di dalam dosa itu, dan amat jarang bagi kita untuk bermuhasabah di atas kebaikkan-kebaikan yang kita sangkakan telah dilakukan. Memanglah alam remaja, teramat indah jika ada orang lain yang sentiasa caring ke atas kita, tetapi percayalah ianya hanyalah khayalan sementara kerana selepas hidup bersama barulah kita tahu kelemahan dan keburukan pasangan masing-masing.

Bila anak-anak sudah bertambah dan kesibukan hidup pun juga bertambah, hilanglah segala impian-impian dan angan-angan terdahulu.

Kepada adik-adik remaja, khususnya mereka yang di bangku menara gading, jauhilah maksiat ber-couple atau apa sahaja perlakuan mungkar kerana semuanya itu saling membuktikan kepada Allah Taala bahawa kalian berdua amat berani mendurhakai Allah Taala. Rumahtangga dibina bukan hanya atas cinta, tetapi juga pada saling mempercayai.

Jika Allah sudah diingkari, siapa lagikah yang boleh dijadikan tempat meletakkan kepercayaan? Dosa semalam akan pasti menjadi kecurigaan hari ini, esok dan selamanya.

Muhasabahlah kalian.
HAYATI AJARAN ISLAM SEBENAR

Kita bincang pasal manusia, naluri manusia suka dicintai dan mencintai, hati pula kalau sentiasa senang akan menjadi bosan tapi kalau sentiasa susah hati akan menjadi rawan, nafsu adalah kelemahan manusia. Barang siapa berjaya menundukkan nafsu, martabatnya akan menyaingi malaikat, kalau ditundukkan oleh nafsu akan turun lebih rendah daripada binatang.

Memang susah merubah seorang musuh menjadi kawan, kemudian menjadi sahabat, memadamkan kemarahan hati dan merubah muka marah dengan senyum, memberi maaf kesalahan sehingga udara yang tadinya mendung menjadi terang benderang. Memang susah melakukan itu, dan ini hanyalah pekerjaan orang yang berhati waja, mempunyai kemahuan yang besar dan bercita-cita mulia.

Namun sedar atau tidak, takwa kepada Allah Taala adalah yang perlu ditekankan. Betapa beratnya balasannya andai kita tersilap langkah dan akhirnya terjerumus ke arah maksiat yang pastinya kita semua maklum tentang balasan Tuhan.
وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُواْ فِينَا لَنَہۡدِيَنَّہُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Allah Taala berfirman yang bermaksud: “Dan orang yang berusaha (berjihad) dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama kami, sesungguhnya kami akan memimpin mereka ke jalan kami, dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya” al-Ankabut (29:69)

Usahlah berlengah lagi untuk berhijrah, andai sudah terdetik dalam hati bahawa perlakuan kalian buat ini adalah salah dan dilaknat Allah Taala, segeralah berhijrah kerana teramat khuatir andai hanya kali ini sahaja peringatan Allah Taala datang untuk menegur kita dan kita pula tidak mengendahkannya, kita akan terus hanyut dengan dosa kita sampai ke akhir hayat kita.

Perlakuan matlamat menghalalkan cara mengelabui mata.

Perintah itu wajib.

Berjihadlah dalam mencari cinta yang suci iaitu cinta selepas pernikahan. Mengapa mencari kaca andai telah dijanjikan permata, dan mengapa mencari api yang membakar kalau sudah dijanjikan salju dingin. Bersabarlah untuk sesuatu yang lebih manis pada masa akan datang.

Jika kita mencari redha Allah dengan kemarahan manusia, nescaya dicukupkan Allah dengan keredhaannya , jika kita mencari kemarahan Allah dengan keredhaan manusia nescaya Allah Taala serahkan kita kepada manusia.

Mua’dz ra berdoa sebelum kematiaannya: “Aku mencintai hidup hanya untuk tiga perkara iaitu untuk berpuasa di siang hari, untuk qiammullail di malam hari dan untuk berkumpul dengan para ulama”.

Carilah kesibukkan di antara terlopong masa dengan pekerjaan, daripada sesenang pekerjaan yang dikira ibadat yang boleh menghasilkan pahala. ameen


Wednesday, 21 October 2009

Ukhuwah dalam Berjama'ah


Copy dari Blog http://muchlisin.blogspot.com
Ikhwah fillah,
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’. Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separuh hartaku. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka nikahilah ia.”

Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja mana pasar kalian.”

Demikianlah sebagian potret ukhuwah dalam bangunan jama’ah dakwah yang ideal. Sa’ad benar-benar memahami keterbatasan Abdurrahman bin Auf. Meskipun di Makkah Abdurrahman bin Auf adalah sudagar yang kaya raya, toh ia datang ke Madinah tidak membawa apapun. Hijrah lebih ia cintai walaupun resikonya adalah meninggalkan seluruh harta kekayannya. Namun, Abdurrahman bin Auf juga seorang sahabat yang tahu betul bahwa ia sanggup melakukan hal yang lebih baik, tanpa bermaksud menolak kebaikan Sa’ad. Ia tetap memberi kesempatan Sa’ad untuk berbuat baik padanya sebagai konsekuensi sebuah ukhuwah; menunjukkan pasar Madinah.

Ukhuwah seperti itu tidak hanya terjadi antara Sa’ad bin Ar-Rabi’ dengan Abdurrahman bin Auf. Ukhuwah seperti itu terjadi pada semua sahabat muhajirin dan ansar. Gambaran mereka seperti firman Allah SWT:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [الحشر/9]
Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr : 9)

Dan bangunan kemasyarakatan mereka seperti penjelasan Sayyid Qutb saat mengomentari QS. Al-Hujurat ayat 11: “Implikasi dari ukhuwah ini adalah hendaknya rasa cinta, perdamaian, kerja sama, dan persatuan menjadi landasan utama masyarakat muslim."

Begitulah. jamaah dakwah yang telah bermetamorfosis menjadi negara di atas tanah Madinah itu menjadi solid dan kuat. Kekuatan utamanya bertumpu pada keimanan. Lalu kekuatan ukhuwah. Ukhuwah yang senantiasa terjaga inilah yang menjamin berlangsungnya fase konsolidasi negara. Bersama-sama, mereka siap mempertahankan Madinah dari segala ancaman yang datang. Ukhuwah yang selalu terpelihara inilah yang menjamin kokohnya eksistensi Madinah. Bersama-sama, mereka siap melindungi dakwah dengan apapun yang mereka miliki.

Ikhwah fillah,
Ukhuwah merupakan hal yang sangat penting setelah akidah, bagi jamaah dakwah. Karenanya Hasan Al-Banna menempatkan ukhuwah sebagai salah satu dari rukun baiat. Beliau mengatakan :
وأريد بالأخوة أن ترتبط القلوب والأرواح برباط العقيدة ، والعقيدة أوثق الروابط وأغلاها ، والأخوة أخت الإيمان ، والتفرق أخو الكفر ، وأول القوة : قوة الوحدة ، ولا وحدة بغير حب , وأقل الحب: سلامة الصدر , وأعلاه : مرتبة الإيثار

Yang saya maksud dengan al-ukhuwah adalah hendaknya berbagai hati dan ruh berpadu dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan yang paling kokoh dan mahal. Ukhuwah merupakan saudara keimanan, sedang perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih, sedangkan cinta kasih yang paling lemah adalah lapang dada dan puncaknya adalah itsar (mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri).

Ukhuwah yang tulus, yang mendekati itsar atau bahkan mencapainya, akan menjadi faktor penyebab keteguhan serta kekokohan jamaah dakwah dalam menghadapi segala medan amal dan mihwar apapun. Sebaliknya, saat ukhuwah itu mulai pudar, bahkan salaamatush shadri pun tidak, akan membuat jamaah segera hancur, betapapun hebat slogannya dan betapapun tinggi cita-citanya.

Saat berada di mihwar tandzimi dan mihwar sya’bi, di mana jumlah kader dakwah tidak sebanyak sekarang, ukhuwah itu begitu terasa. Saat ada satu ikhwah sakit, semua ikhwah dalam satu daerah menjenguknya. Saat ada ikhwah yang tidak hadir sekali saja dalam halaqah, semua ikhwah dalam grup yang sama segera silaturahim padanya. Khawatir ada apa-apa dengannya atau keluarganya. Saat seorang ikhwah mendapatkan kebahagiaan, semuanya pun memberi selamat. Alat komunikasi masih sangat terbatas, tapi seakan-akan setiap kabar bisa begitu cepat sampai ke ikhwah yang lain. Apalagi saat ada yang menikah, subhaanallah. Luar biasa rasa ukhuwah itu.

Kini mihwar kita berbeda. Kita melangkah lebih jauh dalam perjalanan dakwah kita. Kita mengembangkan pengaruh dakwah yang lebih luas. Jumlah kader dakwah semakin banyak. Setiap waktu bertambah. Mihwar muassasi ini ditandai juga dengan penetrasi dakwah ke parlemen dan pemerintahan. Sebagian kader dakwah tersedot ke sana, dengan berbagai konsekuensinya.

Ukhuwah justru menjadi lebih penting pada mihwar ini. Ia sekaligus akan menjadi barometer kesiapan jamaah untuk memasuki fase berikutnya; mihwar daulah. Banyaknya kader dakwah dengan berbagai kesibukannya, seharusnya tidak menggerus nilai-nilai ukhuwah.

Ukhuwah dibangun di atas cinta dan kasih sayang

Ikhwah fillah,
Ukhuwah dalam berjamaah ini harus dibangun di atas cinta, di atas kasih sayang. Dalam bahasa Al-Qur’an disebut “ruhamaa’u bainahum” saling berkasih sayang dengan sesama mereka. Dengan ukhuwah yang dilandasi cinta inilah, orang mukmin dicemburui oleh nabi dan syuhada’; meskipun mereka bukan nabi dan buka syuhada’.

إن من عباد الله عبادا ليسوا بأنبياء يغبطهم الأنبياء والشهداء قيل : من هم لعلنا نحبهم ؟ قال : هم قوم تحابوا بنور الله من غير أرحام ولا انتساب وجوههم نور على منابر من نور لا يخافون إذا خاف الناس ولا يحزنون إذا حزن الناس ثم قرأ : { ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون
“Sesungguhnya, di kalangan hamba-hamba Allah ada beberapa orang yang bukan para nabi dan bukan syuhada, tetapi para nabi dan syuhada menginginkan kedudukan yang diberikan oleh Allah kepada mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka itu?” Rasulullah SAW bersabda, “Mereka adalah orang yang saling mencintai karena Allah, bukan karena hubungan kekerabatan diantara mereka. Juga bukan karena harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, wajah-wajah mereka adalah (seperti) cahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa takut tatkala manusia ketakutan dan tidak bersedih hati tatkala manusia bersedih hati.” Kemudian Rasulullah SAW membaca (ayat), “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus : 62) (HR. Ahmad)

Ukhuwah yang dibangun di atas cinta kepada Allah ini juga mendatangkan cinta-Nya. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ meriwayatkan sebuah hadits qudsi:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ
Allah SWT berfirman, “Kecintaan-Ku akan didapat oleh orang-orang yang saling mencintai dan saling (menemani) duduk karena Aku, saling berkunjung karena Aku, serta saling memberi karena Aku.” (Al-Muwatha’)

Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِى قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِى فِى هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّى أَحْبَبْتُهُ فِى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ فَإِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ
Ada seseorang berkunjung kepada saudaranya di kampung lain, lalu Allah mengutus malaikat untuk menghadang perjalanannya. Malaikat bertanya saat bertemu dengan orang tersebut, “Hendak ke manakah kamu?” Orang itu menjawab, “Aku mau ke (tempat) seorang saudaraku di kampung ini.” Malaikat bertanya, “Apakah ada kenikmatan yang ingin kamu dapatkan darinya?” Ia menjawab, “Tidak, (aku berkunjung kepadanya karena) aku mencintainya karena Allah SWT.” Malaikat berkata, “Sesungguhnya, aku ini utusan Allah kepadamu (untuk mengabarkan), bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu karena kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)

Dengan dilandasi cinta, ukhuwah akan mendorong kaki kita melangkah silaturahim ke saudara kita. Terlebih ketika ia ada masalah atau terlihat mulai kendor tarbiyahnya. Dengan dilandasi cinta, ukhuwah akan menggerakkan lisan kita untuk mengingatkannya saat ia melakukan kekeliruan. Dengan dilandasi cinta, ukhuwah akan membawa diri kita untuk selalu mendoakan saudara-saudara kita; agar ikatan dakwah ini kekal dan agar segala problemnya mendapatkan solusi dari Allah.

Salaamatus shadr; tingkatan ukhuwah paling rendah

Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah Salaamatus shadr; selamatnya hati dari berbagai prasangka buruk dan perasaan tidak enak terhadap sesama ikhwah. Ini adalah batas minimal ukhuwah, jika diterjang, maka ukhuwah itu terkoyak dan timbullah pertentangan dan perpecahan. “Kedua hal ini” kata Syaikh Muhammad Abdul Halim Hamid, “dapat mengantarkan jamaah pada kekalahan dan kehancuran.”

Banyak faktor dalam mihwar muassasi ini yang bisa menjadi stimulus munculnya su’udzan. Saat ada beberapa kader yang mulai berkantor di parlemen, misalnya. Lalu kelihatan ia pakai mobil baru, kader yang belum matang tarbiyahnya bisa kena penyakit ini. Namun bagi mereka yang tertarbiyah dengan baik, dengan mengedepankan ukhuwah ia akan melakukan tabayyun kepada qiyadahnya. “Oo.. itu dibelikan sama ayahnya karena kasihan kalo menantunya kepanasan. Menantunya kan sedang hamil, akhi” ternyata saat tabayyun, jawaban yang didapat benar-benar menenteramkan hati. Jadi jangan su’udzan dulu: “Baru ngantor beberapa hari sudah dapat mobil”. Astaghfirullah.

Ukhuwah itu juga perlu diterapkan saat saudara kita tidak datang liqa’ tanpa keterangan. Kalau ini bukan kebiasaannya, atau pertama kalinya, ikhwah yang lain perlu mencari 1000 alasan agar su’udzan-nya tidak muncul. Jangan buru-buru memvonis “HP-nya dimatikan, mungkin ia sengaja mengistirahatkan diri.” Tidak tahunya kalau ikhwah tadi kecelakaan, dan HP-nya terlindas truk. Na’udzubillah. Kita berlindung kepada Allah dari su’uzhan itu sebagaimana kita berlindung dari kecelakaan yang menimpa ikhwah kita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ [الحجرات/12]
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. (QS. Al-Hujurat : 12)

Berupaya mencapai itsar, tingkatan tertinggi ukhuwah

Sa’ad bin Ar-rabi’ telah mengajarkan kita tentang itsar. Demikian pula seluruh kaum Anshar telah mempraktikkan itsar ini kepada muhajirin. Maka semakin kokohlah ukhuwah mereka, semakin solid gerakan mereka, semakin gencar dakwah mereka.

Ada pula kisah mujahid yang menjadi contoh itsar. Dalam sebuah jihad, ada seorang mujahid yang terluka. Ia kesakitan, lapar, dan haus. Datanglah bantuan padanya, segelas air. Namun ia mendengar ada mujahid lain di sampingnya. Ia berpikir, ini lebih parah. “Berikan saja air itu padanya, ia kelihatan lebih parah dari pada saya.”

Saat air itu diberikan kepada orang kedua, orang itu melihat mujahid di sampingnya lagi tampak lebih membutuhkan air dari pada dirinya. “Berikan padanya.” Mujahid yang ketiga ini juga melihat sampingnya. Mengutamakan orang lain dari pada dirinya. Akhirnya, mereka semua syahid.

Dengan tercapainya itsar, tidak mungkin jamaah dakwah tergoyahkan hanya karena jabatan publik. Dengan itsar, tidak mungkin jamaah dakwah terganggu hanya karena persoalan siapa yang ditunjuk menjadi caleg, siapa yang ditunjuk menjadi calon kepala daerah, atau calon menteri seperti pada hari ini.

Sebagai penutup, marilah kita renungkan nasehat Hasan Al-Banna ini:
تحابوا فيما بينكم ، واحرصوا كل الحرص علي رابطتكم فهي سر قوتكم وعماد نجاحكم ، واثبتوا حتى يفتح الله بينكم وبين قومكم بالحق وهو خير الفاتحين
Hendaklah kalian saling mencintai dengan sesama. Hendaklah kalian sangat peduli pada ikatan kalian, karena itulah rahasia kekuatan dan keberhasilanmu. Dan tetaplah tegar sehingga Allah memberikan keputusan dengan hak antara kalian dan kaummu. Dia adalah sebaik-baik Pemberi keputusan. (Risalah Bainal Amsi wal Yaum).

Wallahu a’alam bis shawab. [sumber: E-Book Taujih Pekanan Menuju Mihwar Dauli]

Tuesday, 23 June 2009

Persiapan Finansial Menghambat Pernikahanku…..

Ini adalah kisah tentang seorang pemuda aktivitas dakwah, sebut saja Wawan. Wawan adalah memutuskan untuk menikah dan telah mendapatkan seorang calon istri (sebut saja bernama Wati). Bisa dikatakan bahwa proses untuk mendapatkan calon istri itu dilakukan dengan nyaris sempurna menurut kaca mata syariat. Ia mendapatkan calon istri dari guru ngajinya plus pertimbangan dari teman-temannya sesama aktivis dakwah.

Tibalah saat Wawan melamar gadis pilihannya. Kepada sang calom mertua Wawan menyatakan kemantapan hatinya untuk mempersunting si Wati yang juga seorang aktivis dakwah di kampusnya.

Terjadilah dialog antara Wawan dan kedua orang tua Wati. Sebuah pertanyaan klise yang diajukan kepada Wawan.

“Mas Wawan kan masih kuliah, Wati juga masih kuliah, bagaimana Mas Wawan akan menghidupi keluarga setelah menikah nanti? ” Tanya sang calon mertua.

“Bapak, Ibu, jangan khawatir akan nafkah. Rezeki sudah dijamin Allah! Apalagi kalau kita bertaqwa, maka Allah akan memberikan rezekinya dari arah yang di sangka – sangka. Kita harus menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah SWT.”

Jawaban tersebut secara akidah tidak salah (bahkan 100% benar!). Namun inilah yang justru menjadi permasalahan. Tentu saja bermasalah, orang tua Wati pastilah bukan sedang dalam posisi sebagai seorang dosen akidah yang sedang menguji mahasiswanya.

Mereka tidak sedang dalam keperluan untuk mengetahui pemikiran si calon menantu tentang ketauhidan tentang ketuhanan, negeri akhirat, dan sebagainya. Calon mertua tersebut sedang menanyakan gambaran fisik dan teknik tentang bagaimana sang calon menantu menyelesaikan permasalahan keseharian sebuah keluarga permasalahan finansial.

Dan jawaban sang calon menantu telah menyinggung perasaan! Sebab, calon mertua merasa digurui. “Belum jadi menantu sudah menggurui kayak ustadz saja, apalagi bila telah menjadi menantu kelak!” begitu kira – kira perasaaan yang berkecamuk pada orang tua Wati.

Ketersinggungan atas jawaban Wawan itulah yang akhirnya menjadi sebuah proses untuk mengambil keputusan telak : menolak lamaran Wawan atas Wati.

Tentunya Anda tidak ingin seperti Wawan. Tetapi mungkin juga belum menemukan jawaban yang lebih baik, karena tentu saja dibutuhkan jawaban yang bukan sekedar kata – kata. Dibutuhkan jawaban yang merujuk pada realitas. Apa yang Anda kerjakan nanti sangat dipengaruhi oleh apa yang Anda lakukan dan pikirkan sekarang.


***************
Wawan dalam cerita di atas mungkin beranggapan bahwa tuntutan persiapan financial konkret yang dikehendaki oleh calon mertua akan semakin menunda pernikahannya. Wawan seolah – olah ingin lari dari kenyataan dengan menggunakan jawaban yang sifatnya konsep akidah sebagai tameng.

Memang,ada orang yang menunda – menunda menikah, bahkan sampai cukup berumur, dengan alasan tidak memiliki perkerjaan dan penghasilan yang cukup.

Sementara itu, sebagian yang lain menasehati agar orang seperti ini segera mengakhiri masa lajangnya dan menyalahkan fikrah materialisme yang menjangkiti pikiran sebagai penyebabnya. Seolah – olah telah tertutup seluruh jalan untuk memiliki penghasilan dan pekerjaan yang memadai sebagai sebuah syarat keputusan menikah.

Saya menawarkan cara berpikir yang lain. Bila seseorang berumur 25 tahun dan belum memiliki kesiapan financial untuk menikah, jangan salahkan kesiapan financial sebagai penghambat pernikahan keselahannya terletak pada mengapa sudah usia 25 tahun kok berlum memiliki kesiapan financial ?

“Dan kawinkanlah orang – orang yang sendirian di antara kamu, dan orang – orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki – laki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Mahaluas (pemberianNya), lagi Maha Mengetahui. Dan orang – orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diriNya), sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya. ”
(QS. An- Nur ayat 32 - 33)
Pada ayat 32, Allah SWT memerintahkan para pemuda untuk segera menikah. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Ayat ini seharusnya menjadi pemicu semangat para pemuda untuk segera menikah. Walaupun demikian, bukan berarti seseorang boleh menjadikan ayat ini sebagai dasar untuk tidak berusaha melakukan persiapan financial pernikahannya.

Pada ayat berikutnya Allah SWT menunjukkan bahwa di antara hambaNya yang diperintahkan untuk menikah ada yang masih belum mampu untuk melakukannya. Kepada orang yang seperti ini Allah menyuruhnya untuk menjaga kesucian diri hingga Allah memampukan mereka.

Jangan dikira bahwa Allah memampukan seseorang tanpa sebuah proses. Perhatikanlah, Allah memampukan setiap orang untuk berjalan dengan proses pembelajaran melalui berkali – kali, jatuh bangun. Allah memampukan seorang anak berbicara setelah melalui proses pembelajaran panjang dengan berbagai kesalahan yang sering dipandang lucu oleh orang-orang dewasa.

Buku Kecerdasan Finansial

Jadi, jangan berharap akan memperoleh kemampuan menikah begitu saja secara tiba-tiba. Harus melalui proses terlebih dahulu.

Thursday, 7 May 2009

Indahnya Menahan, Menunggu Buka penuh Kejutan…

Indahnya Menahan, Menunggu Buka penuh Kejutan…

Menanti pernikahan dengan proses yang suci tentu memerlukan kiat tersendiri. Allah dan RasulNya menuntunkan beberapa hal yang pasti akan menjadi isian terbaik bagi hari – hari puasa kita. Tidak semua, tetapi ada lima yang akan kita bahas yaitu : dzikirullah, puasa, sabar, dan shalat, tarbiyah, serta aktivitas dak’wah

Satu : Dzikrullah, Allah dekat saja

Hakikat dzikir, adalah mengingat Allah di setiap tempat, kondisi, dan waktu.

“Orang – orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Dan mereka mentafakkuri penciptaan langit dan bumi. (Mereka mengatakan) Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau cipatakan semua ini dengan sia – sia, Maha Suci Engkau, maka jauhkanlah kami dari azab neraka”(QS. Ali Imran ayat 191)

Ada beberapa dzikir ma’tsur yang dituntunkan Rasulullah SAW untuk dilakukan ketika pagi dan sore, menjelang tidur, atau dilakukan saat – saat khusus. Beberapa ulama sudah membahas tentang dzikir sesuai sunnah. Al Adzkar, karya Imam An Nawawi, Al Ma’surat karya Ustadz Hasan Al Banna, dan risalah – risalah tentang dzikir dari Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al Ustaimin sudah banyak tersesia dan bisa kita baca. Maka selamat berdzikir pilihlah yang sesuai sunnah, agar kita jadi tenang, tentram dan sakinah.

“yaitu Orang – orang yang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah, Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (QS. Ar Raad ayat 28)

Ayyuhal Ihwan ! ketentraman itu memang indah. Tetapi sebagai pengimbangnya, ketakutan juga harus ditumbuhkan semuanya tetap dalam kerangka dzikir. Tentu hanya kepada dan karena Allah semata. Ketakutan adalah energi jiwa, untuk membentengi diri dari perbuatan yang mengundang murka Ilahi. Rasa takut akan kengerian yang lebih besar, kengerian neraka, kengerian zaqqum, kengerian makan nanah dan darah, malaikat yang kasar dan bengis. Panas, perih, ngilu, kehausan abadi, minuman yang membakar, dan kulit yang selalu diganti untuk dirasai siksa….

Dua: Maka Atasnyalah Puasa…

“Wahai sekalian pemuda….barangsiapa diantara kalian bersanggupan ba’ah maka hendaklah is menikah. Karena sesungguhnya ia dapat memejamkan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, maka atasnyalah puasa, maka sesunggunya puasa itu benteng baginya. (HR Al Bukhari dan Muslim )

Ba’ah, dalam arti asalnya adalah tersedianya tempat tinggal. Jadi syarat anjuran untuk menikah di sini dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk menyediakan tempat tinggal bagi kehidupan rumah tangganya nanti. Oh, bukan berarti harus sudah memiliki rumah sendiri, apalagi jika harus megah. Tidak, tidak ada larangan menjadi kontraktor(pengontrak maksudnya) bahkan fatimah binti Rosulullah dan Ali di awal pernikahannya menempati sebuah rumah sangat sederhana yang statusnya hutang.

Memaknai puasa tak hanya sebagai lapar dan dahaga, ini yang sulit. Ada lidah, mata, tangan, dan kaki, yang juga tetap harus kita puasakan. Banyak prang berpuasa tanpa beroleh apa jua selain lapar dan dahaga. Tetapi adalah hina, jika enggan berpuasa karena takut tak mendapat apa – apa. Subhanallah, sungguh melegakan bahwa secara fisik lahiriah saja, logika puasa sebagai benteng ini sudah bersambung dengan sabda beliau SAW yang lain :

“Sesungguhnya syaithan itu berjalan didalam diri anak Adam melalaui peredaran darah. Maka persempitlah jalannya dengan lapar dan dahaga.(HR. Al Bukhari )

Tiga : Menggapai Pertolongan Dengan Sabar dan Shalat

Ketika nafsu begitu haus, ketika syahwat begitu menggebu, tetap ada kesucian yang harus dipertahankan mati-matian. Betapa berat perjuangan, ia hanya menghargai para pemilik kesabaran. Ia gandengkan ruhnya yang berjuang mempertahankan kesucian, ia sambungkan jiwanya yang coba menegakkan sifat malu, dengan kesertaan Allah. Sungguh sebuah nikmat yang tak bisa diukur dengan neraca dunia.

“Wahai orang yang beriman, mohonlah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah berseta orang – orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 153 )

Empat : Nggak Ngaji Nggak Trendi !

Mungkin anda adalah peserta atau juga bahkan pengisi, ataupun sekedar orang yang pernah melihat dan menemui fenomena seperti ini di zaman ini :

“ ……Ketika beliau keluar tiba – tiba beliau dapati para sahabat duduk dalam halaqah(Lingkaran) beliau bertanya, “ Apakah yang mendorong kalian duduk seperti ini?. Mereka menjawab, “ Kami duduk berdzikir dan memuji Allah atas Hidayah yang Allah berikan sehingga kami memeluk islam.”

Maka Rasulullah bertanya, Demi Allah, kalian tidak duduk melainkan untuk itu? Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak duduk kecuali untuk itu. Maka beliau bersabda, sesungguhnya saya bertanya bukan ragu – ragu, tetapi Jibril dating kepadaku memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan para malaikat.”

(Potongan HR. Muslim, dari Abu Sa’id dari Mu’awiyah)

Lima: Melelahkan diri dengan Aktivitas Dakwah

Bantu Aku Menjaga Mataku

Tinggalkan masa lalu, akhi/ukhti. Ini saatnya kita berpikir jernih : menunda berhias sampai ia menjadi berpahala. Adalah konyol, berhias untuk orang yang belum pasti menjadi suami atau istri, sementara di dalamnya kita melanggar larangan Allah dan mengundang murkanya dengan make-up perilaku jahiliah. Dengarlah Allah sendiri yang mengajakmu bicara ;

“….Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang – orang jahiliah dahulu…”(QS. Al- Ahzab 33)

Mata adalah jendela hati dan kurir zina. Batapa banyak bencana akibat mata tak terjaga. Dan betapa cerdas iblis, yang menyediakan banyak alternatif untuk mengisi retina hati dengan pandangan memabukkan berupa cara berhias dan bertingkah laku jahili. Menatap parilaku dan kelincahan memang membahagiakan. Melihat engkau berhias cantik, pasti membuat aku tertarik. Memandangmu…..waduh selalu…..kata seorang panyanyi, tak akan pernah tumbuh jemu di hatiku.

Astaghfirullah, seharusnya kebahagian. Ketertarikan, dan ketidakjemuan itu tak perlu hadir jika ia menghadirkan nyala neraka di pelupuk. Engkau lebih tahu bagaimana menjaga dirimu daari mataku. Bantu aku menjaga ini, agar kita semua selamat sampai akhir nanti. Bantu aku, bantu aku menjaga mata ini ya Allah…

Bantu Aku Menjaga Mataku

Tinggalkan masa lalu, akhi/ukhti. Ini saatnya kita berpikir jernih : menunda berhias sampai ia menjadi berpahala. Adalah konyol, berhias untuk orang yang belum pasti menjadi suami atau istri, sementara di dalamnya kita melanggar larangan Allah dan mengundang murkanya dengan make-up perilaku jahiliah. Dengarlah Allah sendiri yang mengajakmu bicara ;

“….Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang – orang jahiliah dahulu…”(QS. Al- Ahzab 33)

Mata adalah jendela hati dan kurir zina. Batapa banyak bencana akibat mata tak terjaga. Dan betapa cerdas iblis, yang menyediakan banyak alternatif untuk mengisi retina hati dengan pandangan memabukkan berupa cara berhias dan bertingkah laku jahili. Menatap parilaku dan kelincahan memang membahagiakan. Melihat engkau berhias cantik, pasti membuat aku tertarik. Memandangmu…..waduh selalu…..kata seorang panyanyi, tak akan pernah tumbuh jemu di hatiku.

Astaghfirullah, seharusnya kebahagian. Ketertarikan, dan ketidakjemuan itu tak perlu hadir jika ia menghadirkan nyala neraka di pelupuk. Engkau lebih tahu bagaimana menjaga dirimu daari mataku. Bantu aku menjaga ini, agar kita semua selamat sampai akhir nanti. Bantu aku, bantu aku menjaga mata ini ya Allah…

Monday, 4 May 2009

Cantik, Ijinkan Aku Menunduk !!!

Demi Allah, Aku tak tahu apa harus kukecam hawa nafsuku, Atas Cinta. Atau mataku yang menggoda, ataukah hati ini. Jika kukecam hati, ia berkata : Gara – gara mata yang memandang! Dan jika kuhardik mata, ia berdalih : Ini kesalahan hati! Mata dan Hati telah dialiri darah, Maka wahai Rabbi, jadilah Penolongku atas mata dan hati ini.

Syaithan, kata Ibnu ‘Abbas, menempati tiga lokasi dalam diri seorang lelaki : pandangan, hati, dan ingatan. Sementara kedudukan syaithan dalam diri seorang wanita menurut faqihnya para sahabat ini ada pada lirikan mata, hati, dan kelemahannya. Luar biasa, Betapa semua titik lemah manusia telah diketahui syaithan.

Sungguh benar kemudian jika Ustad Rahmat ‘Abdullah mengatakan bahwa di titik lemah ujian datang. Demi Allah, ada banyak laki – laki jujur yang akan mengakui bahwa titik lemahnya ada pada kecantikan wajah. Sejujur para istri bangsawan – bangsawan Mesir di masa Yusuf ‘Alaihis Salam yang mengiris jemarinya menyaksikan ketampanan membius. Cukuplah ungkapan keterpanaan mereka mewakili perasaan para lelaki, “Haasyallaah, ini bukan manusia, ini malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf ayat 31)

Di tengah kejujuran itu, biarlah kita merindu sosok – sosok yang pandangannya selalu tunduk, menyerusuk ke kedalam bumi. Walau ia menyimpan kekaguman pada kecantikan mahakarya Allah, tetapi kemampuan membedakan mana yang halal dan mana yang haram baginya telah mengajarkan kalimat, “Cantik, Ijinkan aku Menunduk”

Mari kita dengarkan Ummuh Salamah berkisah tentang santunnya ‘Utsman bin Thalhah dalam perjalanan mereka ke Madinah. Sungguh, hanya Allah yang mengawasi mereka sepanjang 400 kilometer itu. Ya. Padahal Ummuh Salamah adalah salah satu wanita tercantik di Makkah, dan ‘Utsman pun tergolong tampan.

Agaknya, ketundukan pandangan ‘Utsman bin Thalhah, kemulian akhlaqnya, dan kesuciannya inilah membuat Rasulullah mencegah ‘Umar membunuhnya saat sia masih musyrik dan manjadi tawanan Badar. Bahkan kemudian, beliau menetapkan hak pemegang kunci ka’bah padanya dan keturunannya saat penaklukan Makkah. Inilah yang beliau SAW lakukan, meski ‘Ali sang menantu mulia menginginkan dan meminta kedudukan itu untuk disatukan dengan hak pemberian minum jama’ah haji yang ada pada keturunan Abdul Muthalib.

Thursday, 30 April 2009

Sup Kaldu, Sayur Lodeh; Apapun Namanya Deh

Sup Kaldu, Sayur Lodeh; Apapun Namanya Deh !

Ada sup kaldu yang bumbunya dimakan dulu. Atau kalau anda penggemar sayur lodeh, itu pun boleh. Kiasan ini dimaksudkan sebagai umpama atau ketergesaan menikmati sisi – sisi indah dalam hubungan dua insan sebelum dihalalkan. Tak hanya berakibat dosa yang menjanjikan siksa akhirat. Tapi terkadang Allah menyegerakan rasa pedih dan perih dalam jiwa saat kita masih di dunia.

Ketika pacaran, mereka sudah merasai semua bumbu yang seharusnya digunakan untuk menyedapkan kehidupan rumahtangga. Saling mencurahkan perasaan, berbagi, meredakan gelisah, memberi perhatian,…. semua dudah. Pandangan kasih nan sayu, sentuhan mesra, kerapatan fisik, sandaran, singgungan dan tekanan kulit yang ternikmati, semuanya sudah. Pergi berdua, bertualang bersama, bertamasya mesra, semuanya juga sudah.

Sungguh, jiwa begitu mudah bosan. Takkan ada yang istimewa dan menjadi kenangan selama hidup di pernikahan malam pertama. Kalau semuanya sudah dilakukan, kini mau apa ? Takkan ada lagi salah tingkah yang begitu mengasyikkan lagi mengundang kesyukuran seperti dikisahkan Ustadz Pak Cah dalam pengantar buku Dua Lelaki Pilihan karya Nurul F. Huda . Coba baca deh…..

Kalau anda menikah dan pernah pacaran, anda akan membandingkan pacaran dengan pernikahan. Dan pasti pacaran lebih indah, karena pacaran memang hanya mencari rasa yang indah. Lalu, jadilah kenangan pacaran sebagai penyesalan dalam hidup rumah tangga. Atau, kalau anda membandingkan istri anda dengan pacar anda, pasti pacar anda dahulu lebih sempurna. Ya, karena selama pacaran, hanya sifat baiknya saja yang ditunjukkan pada anda.

Peringatan sudah disampaikan. Bisa jadi, ada pintu – pintu kesenangan yang dibukakan dalam pacaran. Tetapi tunggulah saat dimana anda terdiam berputus asa. Saat segala kecewa dituai karena pernikahan tak berbumbukan kenikmatan. Saat anda kecewa bahwa istri dan suami tak seindah harapan. Saat itulah anda menyesal. Saat itulah anda sadar, akan salah satu pelajaran dari ayat ini :

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberika kepada mereka, Kamipun membuka pintu – pintu kesenangan bagi mereka. Sehingga apabila, mereka telah bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong – konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa ”

(QS. Al-An’am ayat 44)

Wednesday, 22 April 2009

PACARAN HARAM vs PACARAN HALAL

PACARAN HARAM vs PACARAN HALAL

Orang bilang, nikah tanpa pacaran ibarat beli kucing dalam karung. Padahal orang yang menikah dengan pacaran terlebih dahulu, ibarat membeli kucing dipinggir jalan, sudah dipegang – pegang oleh para konsumen, sehingga tidak sebersih dan sebaik produk dalam kemasan.

PACARAN HARAM adalah pacaran yang dilakukan sebelum menikah, dalam Islam tidak ada sebutan Pacaran islami. Pacaran merupakan produk barat dengan alasan menyamakan persepsi sebelum menikah sehingga setelah nikah tinggal tancap gas. Tapi persepsi itu salah besar dan melanggar aturan agama, dan sudah banyak bukti output yang dihasilkan misal : Hamil by Accident , adapun yang selamat sampai maghligai perkawinan, saat pacaran biasanya yang ditampilkan adalah hal baik2 saja yang jelek2 keluar setelah menikah. Akhirnya tidak lama kemudian terjadilah perceraian atau tetep bertahan tapi suasananya tidak harmonis meresa salah beli (beli kucing dalam tas kresek  )

PACARAN HALAL adalah pacaran setelah menikah. Kalau boleh memakai bahasa yang lebih keren sugesti antara yang haram dan halal saja berbeda,kalau yang haram tujuannya untuk menyamakan persepsi kalau ghak cocok yo wes putus wae… , beda dengan yang halal proses penyamaan persepsi itu akan berjalan lebih harmonis dan romantis dan dapat pahala lagi. (Baca buku “Nikmatnya Pacaran setelah menikah” by Salim A. Fillah)

• JATUH CINTA
Islam juga tidak melarang seseorang mencintai sesuatu, tetapi untuk tingkatan ini harus ada batasnya. Jika rasa cinta ini membawa seseorang kepada perbuatan yang melanggar syariat, berarti sudah terjerumus ke dalam larangan. Rasa cinta tadi bukan lagi dibolehkan, tetapi sudah dilarang. Perasaan cinta itu timbul karena memang dari segi zatnya atau bentuknya secara manusiawi wajar untuk dicintai. Perasaan ini adalah perasaan normal, dan setiap manusia yang normal memiliki perasaan ini. Jika memandang sesuatu yang indah, kita akan mengatakan bahwa itu memang indah. Imam Ibnu al-Jauzi berkata, "Untuk pemilihan hukum dalam bab ini, kita harus katakan bahwa sesungguhnya kecintaan, kasih sayang, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela. Terhadap cinta yang seperti ini orang tidak akan membuangnya, kecuali orang yang berkepribadian kolot. Sedangkan cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada perkara yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya,hal seperti inilah yang tercela."

Begitu juga ketika melihat wanita yang bukan mahram, jika ia wanita yang cantik dan memang indah ketika secara tidak sengaja terlihat oleh seseorang, dalam hati orang tersebut kemungkinan besar akan terbesit penilaian suatu keindahan, kecantikan terhadap wanita itu. Rasa itulah yang disebut rasa cinta, atau mencintai. Tetapi, rasa mencintai atau jatuh cinta di sini tidak berarti harus diikuti rasa memiliki. Rasa cinta di sini adalah suatu rasa spontanitas naluri alamiah yang muncul dari seorang manusia yang memang merupakan anugerah Tuhan.

Seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Khattab r.a., "Wahai Amirul Mukminin, aku telah melihat seorang gadis, kemudian aku jatuh cinta kepadanya." Umar berkata, "Itu adalah termasuk sesuatu yang tidak dapat dikendalikan." (R Ibnu Hazm). Dalam kitab Mauqiful Islam minal Hubb, Muhammad Ibrahim Mubarak menyimpulkan apa yang disebut cinta, "Cinta adalah perasaan di luar kehendak dengan daya tarik yang kuat pada seseorang."
Sampai batas ini, syariat Islam masih memberikan toleransi, asalkan dari pandangan mata pertama yang menimbulkan penilaian indah itu tidak berlanjut kepada pandangan mata kedua. Karena, jika raca cinta ini kemudian berlanjut menjadi tidak terkendali, yaitu ingin memandang untuk yang kedua kali, hal ini sudah masuk ke wilayah larangan.

Allah SWT berfirman yang artinya, "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.' Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka …." (An-Nuur: 30--31). Menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak dilepas begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan yang terpelihara adalah apabila secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat lagi kemudian.

Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi, 'Palingkanlah pandanganmu itu'!" (HR Muslim, Abu Daud, Ahmad, dan Tirmizi).

Rasulullah saw. berpesan kepada Ali r.a. yang artinya, "Hai Ali, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya! Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun berikutnya tidak boleh." (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmizi).

Risalah Muhammad SAW datang untuk meluruskan salah persepsi antara kutub berlebihan, antara kehidupan mengumbar nafsu dengan kehidupan membunuh nafsu dua- duanya bukan kemuliaan. Islam telah meletakkan timbangan kemuliaannya dalam semua hal termasuk dalam masalah hawa nafsu pada timbangan kebenaran atas penunaian perintah Allah dan penyingkiran laranganNya daari kehidupan. Bahwa Allah melarang sesuatu pasti ada kemudharatan di dalamnya. Tak asal melarang, Ia Yang Maha Bijaksana selalu memberikan alternatif yang lebih suci, indah, dan berpahala, serta membingkainya dalam kerangka mentaatiNya. Contoh Allah melarang mendekati Zina yang keji dan memerintahkan pernikahan yang suci.

“Telah tertulis atas anak Adam nasibnya dari Zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tidak bisa tidak. Maka kedua mata, zinanya adalah memandang. Kedua telinga, zinanya adalah mendengar. Lisan, zinanya adalah berkata. Tangan, zinanya adalah menyentuh. Kaki, zinanya adalah berjalan. Dan zinanya Hati adalah ingin dan angan – angan. Maka akan dibenarkan hal ini oleh kemaluan atau didustakannya ”
(HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

Pelajaran yang bisa diambil dari artikel diatas semoga ini bisa menjadi peringatan khususnya bagi saya untuk terus istiqomah dan umumnya buat saudara seiman saya antara lain :
1.Ada yang HALAL dan dapat pahala ngapaiin pilih yang HARAM dan mendapat tambahan dosa.
2.Pernah lihat film Ayat – ayat cinta, salah satu mekanisme dan solusi yang ditawarkan Islam seperti itu.
3.Kalau ghak percaya tanya temen2 yang sudah mengamalkan cara yang HALAL

Friday, 13 February 2009

Valentine’s Day : Pesta Setan Mengumbar Syahwat

Festival Lupercilia adalah ritual para penyembah berhala Romawi kuno dengan cara mengumbar syahwat, yang kemudian dibuah oleh Paus Gelasius II menjadi hari Valentin yang dirayakan oleh Kristen, lalu dilarang oleh Kristen sendiri. Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi hari Valentin ?

A. SEJARAH VALENTIN DAY
Bulan Februari digunakan oleh Romawi sebagai bulan cinta(love) dan kesuburan. Dalam istilah Barat, Love(cinta) lebih menunjukkan hubungan seks. Sedangkan kasih sayang memiliki istilah sendiri, yakni affection. Oleh karena itu arti sebenarnya making love adalah hubungan kelamin, bukan menjalin kasih sayang.
Sejak dulu, bulan Februari selalu ditunggu – tunggu orang Romawi penyembah berhala untuk mencari pasangan baru secara resmi,walaupun setiap hari mereka juga gonta – ganti pasangan. Perayaan seks mencapai puncaknya pada pertengahan bulan dalam pesta yang disebut festival Lupercilia, dimana para wanita muda memasrahkan tubuhnya pada pemuda yang memilihnya dan harus melayani syahwat mereka tanpa syarat selama setahun penuh sampai datangnya bulan Februari lagi.
Berabad kemudian, kristen yang ingin menancapkan pengaruhnya di istana kerajaan Romawi, banyak mengadopsi simbul dan ajaran Paganisme (penyembahan berhala) Romawi ke dalam ajaran gereja, sehingga Festival Lupercalia pun dimasukkan sebagai salah satu hari peringatan (memorial day) bagi gereja. Mitos Santo Valentinus pun dibuat untuk meyakinkan semua kalangan. Gereja mengganti istilah Lupercalia festival dengan The Valentine’s Day.
Dengan penulisan sejarah yang curang dan konspiratif oleh intelektual Barat yang disebarkan dengan kekuatan pedang dan uang, agar masyarakat dunia meyakini bahwa Valentine’s Day merupakan hari yang sungguh penting, bersejarah dan harus dirayakan.
Agar penetrasi budaya penyembah berhala ini bisa diterima oleh banyak kalangan, terutama pada dunia Islam, maka istilah love yang di Barat sebenarnya bernuansa syahwat, dibelokkan pengertiannya menjadi kasih sayang. Maka jadilah Valentine’s Day yang sebenarnya merupakan hari Perayaan hubungan Seks mengalami pengaburan dan pembelokkan makna (enfimisme) menjadi Hari Kasih Sayang. Padahal siapa pun orang dewasa akan mengetahui esensi(hakekat) perayaan tersebut yang banyak diakhiri dengan ritual making love (hubungan kelamin)dengan pasanga yang tidak sah(Zina).
(a) Festival Lupercalia
Festival ini merupakan perayaan yang berlangsung pada tanggal 13 hingga 18 Februari, dimana pada tanggal 15 mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14) dipersembahkan kepada Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

Pada tanggal 13 pagi hari, pendeta tertinggi Pagan(penyembah berhala) Roma menghimpun para pemuda dan pemudi untuk mendatangi kuil pemujaan, mereka dipisah dalam dua barisan dan sama –sama menghadap altar utama. Semua nama perempuan muda ditulis dalam lembaran – lembaran kecil, setiap satu lembar tertulis satu nama. Lembaran tersebut dimasukkan ke kendi besar.

Setelah itu, pendeta mempersilahkan para pemuda satu per satu mengambil satu nama gadis yang berada dalam kendi tersebut secara acak hingga wadah itu kosong. Gadis pemilik nama yang terambil, harus menjadi kekasih pemuda yang mengambil namanya dan berkewajiban melayani segala sesuatu yang diinginkan oleh pemuda tersebut. Selama setahun hingga tiba festival Lupercalia di tahun depan.

Tanpa ikatan pernikahan, mereka bebas berbuat apa saja. Dan malam pertama hari itu, malam menjelang 14 Februari hingga malam menjelang tanggal 15, diseluruh kota, para pasangan baru itu merayakan apa yang kini terlanjur disebut sebagai Hari Kasih Sayang. Suatu istilah yang benar – benar keliru dan lebih tepat disebut dengan Making Love Day atau Malam Kemaksiatan.

Pada tanggal 15 Februari, setelah sehari penuh para pasangan itu mengumbar syahwatnya, mereka secara berpasangan kembali mendatangi kuil pemujaan untuk berdoa kepada Dewa Lupercalia agar dilindungi dari gangguan Serigala dan roh jahat. Dalam upacara itu, pendeta Pagan Roma membawa dua ekor kambing dan seekor anjing yang disembelih diatas altar untuk persembahan kepada Dewa Lupercalia, yang diikuti dengan ritual meminum anggur.

Setelah itu para pemuda mengambil selembar kulit kambing persembahan dan berlari di jalan – jalan kota diikuti oleh para gadis. Jalan – jalan kota Roma meriah oleh teriakan dan tawa – canda para muda – mudi. Para perempuan berlomba – lomba mendapatkan sentuhan kulit terbanyak dan yang pria berlomba – lomba menyentuh gadis sebanyak – banyaknya.

Perempuan Romawi kuno di zaman itu sangat percaya bahwa kulit kulit untuk persembahan kepada Dewa Lupercalia itu memiliki daya magis yang luar biasa. Yang membuat mereka bertambah subur, tambah muda, dan cantik. Semakin banyak mereka menyentuh kulit kambing tersebut, mereka yakin akan bertambah cantik dan subur.
(b) Mitos Santo Valentinus
Valentine’s Day berasal dari kisah dusta tentang seorang Santo(orang suci dalam pandangan katolik) yang rela menyerahkan nyawanya demi cinta pada orang lain, yaitu Santo Valentinus. Namun pihak gereja sendiri hingga kini tidak menemukan kata sepakat siapa sesungguhnya Santo ini. Oleh karena itu, Gereja sebenarnya telah mengeluarkan surat larangan bagi pengikutnya agar tidak ikut – ikutan merayakan ritual yang tidak berdasar ini.

B. MISI KRISTEN
Disamping dunia bisnis memanfaatkan moment Valentine’s Day untuk meraup keuntungan besar, Kristen menjadikannya sebagai cara efektif untuk mengkristenkan generasi islam melalui teori strategi marketing(pemasaran)
Dalam pemasaran ada tiga faktor yang memiliki nilai jual: Instututional selling value, Product selling value, dan personal selling value


C. MENYIKAPI VALENTINE’S DAY
1) Allah mengingatkan kita agar tidak terpesona rayuan dan tipu daya iblis yang senantiasa menampakkan begitu indahnya perbuatan – perbuatan nista manusia, padahal perbuatan itu sebenarnya amat menjijikkan :
“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".
(QS. Al Hijr ayat 39 - 40)
2) Allah melarang kita mendekati zina, apalagi melakukan perzinahan
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al Isra ayat 32)

3) Allah melarang kita mudah terpengaruh oleh perilaku kebanyakan orang, tanpa mengetahui dasar mereka untuk melakukan perbuatan tersebut.
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS Al An’am ayat 116)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
(QS Al Isra ayat 36)

4) Rasulullah SAW memperingatkan kita agar tidak terseret pada budaya Yahudi dan Nasrani, maupun budaya penyembahan berhala lainnya.
“Abu Said ra. Menyampaikan bahwa Nabi SAW bersabda: “ Sungguh kamu akan mengikuti perilaku orang – orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta – demi sehasta. Hingga meskipun mereka masuk lubang biawak, kamu pun mengikutinya.” Kami (Abu Said dkk) bertanya: Ya Rasulullah! Apakah kami akan mengikuti orang – orang Yahudi dan Nasrani? Nabi Menjawab : Mengikuti (Siapa lagi)” (HR Bukhari )
Valentine’s Day = Zina



Artinya :”Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya perbuatan zina itu adalah perbuatan keji dan cara yang paling buruk.”
(QS. Al-Isra’ ayat :32)


Sedikit-demi sedikit generasi muslim bertamba jauh dari tuntunan agama mereka. Ini disebabkan oleh kurangnya pembinaan Dunul Islam terhadap mereka, sehingga pemahaman tentang Dinul Islam bagi mereka yang bertambah tipis dan bahkan tidak mengerti sama sekali.

Valentin’s Day adalah satu diantara cara untuk menjauhkan anak – anak dan pemuda muslim dari ajaran Islam itu. Acara itu bukan kebetulan, tetapi bahkan ditata begitu rapi untuk menjerat anak – anak dan pemuda – pemuda bahkan setiap muslim agar akhlaq mereka rusak dan meninggalkan akhlaqul karimah yang diajarkan oleh Rasullah SAW., dan para pendahulu mereka.

Rasulullah SAW., bersabda : “sedikit – demi sedikit kamu akan mengikuti jejak orang – orang sebelum kamu (orang – orang musyrik, Yahudi dan Nasrani)” (HSR At Tirmidzi)

Tepatlah apa yang dikatakan Rasulullah SAW itu. Dan itu adalah satu diantara perbuatan bid’ah yang dikecam keras oleh beliau.

Valentin’s Day adalah suatu acara yang diperingati setiap tanggal 14 bulan Februari telah ditata sedemikian rupa untuk menghancurkan akhlaq generasi muslim. Sampai –sampai yang tidak ikut kuatir dinilai kampungan, kurang pergaulan dan sebagainya. Bagaimana sebenarnya acara VD itu. Dalam pesta itu,mereka biasanya mengundang orang secara formal dari pasangan remaja utnuk ikut masuk dalam pesta. Mula – mula antara cewek dan cowok dipisahkan. Lalu masing – masing diberi nomor dan dimasukkan ke dalam kotak untuk kemudian diundi untuk menentukan pasangannya. Mereka selanjutnya diberikan kesempatan untuk mengungkapkan kasih sayangnya dalam satu kamar khusus. Nah, kalau sudah begini selanjutnya terserah anda.

Islam telah memberikan tuntunan kapada kita dengan tegas. Bagaimana seharusnya bergaul antara laki – laki dan perempuan. Bagaimana etika yang seharusnya dipegang teguh agar pergaulan itu tidak menjurus kapada kerusakan Akhlaq, bahkan kehancuran tatanan di masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda :
“Telah ditetapkan pada manusia ketentuan tentang zina. Zina kedua mata adalah melihat. Zina kedua telinga adalah mendengar. Zina lisan adalah perkataan. Zina tangan adalah memegang. Zina kaki adalah melangkah. Zina hati adalah keinginan dan angan – angan. Dan kemaluan yang akan membuktikan / merealisasikan atau mendustakanny” (HSR Al Bukhari dan Muslim)

Dari sabda Rasulullah SAW itu, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa acara Valentin’s Day atau apaun namanya seperti yang tersebut diatas, termasuk perbuatan Zina. Mendengar undangannya adalah zina telinga. Melangkahkan kaki menuju tempat undangan seperti itu adalah zina kaki. Menentukan pasangan adalah zina angan – angan dan keinginan.Masuk ke kamar melihat pasangan adalah zina mata. Menggandeng pasangan adalah zina tangan. Mengucapka dan mendengan kasih sayang dan orang yang bukan istrinya adalah zina lidah dan telinga. Dan tinggal satu zina yang pasti nantinya akan sulit dihindarkan, yaitu realisasi zina yang menurut hukum islam wajib mendapatkan hukuman pidana, yaitu zina kemaluan. Dan jika itu merajalela maka akan rusaklah masyarakat kita secara lahir dan batin.

Oleh karena itu, marilah kita perhatikan firman Allah SWT : “janganlah kamu mendekati perbuatan zina. Sesungguhnya perbuatan zina itu adalah perbuatan keji dan cara yang paling buruk” (QS. Al Isra’ 32) dan firman Allah SWT : “Dan (orang – orang yang beruntung itu ialah) orang – orang yang menjaga farji(kemaluan)nya, kecuali terhadap isteri – isteri mereka”(QS. Al Mukminun 5-7)

Terdapat juga Hadist Rasulullah SAW dari Ibnu Umar ra. Berkata : Suatu ketika kami sedang berada di sisi Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda : “Betapa ngeri-nya seumpama kamu sekalian terjangkiti lima perkara (penyakit). Saya berlindung kepada Allah semoga Allah menjauhkannya dari kalian atau jangan sampai kalian mendapatinya. Yaitu (salah satu-nya): Merajalelanya perbuatan zina di masyarakat yang dilakukan dengan terang – terangan, (jika ini terjadi) maka akan merajalela wabah penyakit (tha’un), dan penyakit – penyakit lain yang belum pernah ada sebelumnya…”(Dan seterusnya Hadist Riwayat Al Baihaqi dan Al Hakim)

Maka dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa : Acara Valentin’s Day bertentangan dengan ajaran Islam dan Acara Valentin’s Day adalah perbuatan bid’ah yang merusak Aqidah dan akhlaq kaum muslimin. Maka ikut atau terlibat dan memberikan Fasilitas dalam bentuk apapun dalam acara Valentin’s Day hukumnya HARAM

Musa Abdullah
(Ketua LPI Kota Surabaya dan Sekretariat PCM Simokerto)

Tuesday, 10 February 2009

LIDAH TAK BERTULANG

Lidah merupakan salah satu anggota badan yang diciptakan hanya supaya dipergunakan untuk memperbanyak zikir kepada Allah, membaca firman-Nya, menunjukkan makhluk Allah(manusia)
ke jalan-Nya


PEPATAH ARAB MENGGAMBARKAN,

“Keselamatan manusia itu tergantung pada pemeliharaan lidah.
Lidahmu ibarat kudamu,jika engkau meremehkan (melepaskan kendalinya) maka ia menghinakanmu(berlari sekehendaknya).
Dan jika engkau menjaga(mengekang/menguasi kemauannya)
Ia pun akan menjaga (berjalan dengan teratur menurut kemauanmu)
Lidahmu ibarat singamu, jika engkau melepaskannya ia akan menerkammu. Dan jika ia engkau pegangi(tangkap) justru ia akan menjagamu”

Dalam kitab “Azdkar” Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. bahwa Nabi bersabda :
“Ketika anak Adam memasuki waktu pagi maka seluruh anggota badan yang menuruti dan tunduk terhadap lidah berkata, Takutlah kepada Allah karena sesungguhnya keberadaan kami tergantung kepadamu. Jika kamu benar maka kami menjadi benar, jika engkau jelek kami pun pasti jelek”

Saking pentingnya peran yang ia sandang, maka jika lidah nyata – nyata bertingkah keluar dari jalur – jalur yang telah digariskan oleh agama ia akan menanggung siksa yang sama sekali tidak pernah dirasakan oleh anggota tubuh yang lain, sebagaimana di sabdakan oleh Rasulullah :
“ Lidah akan disiksa dengan siksaan yang sama sekali tidak ditimpakan (disiksakan) kepada anggota tubuh yang lain. Kemudian lidah bertanya, Wahai Tuhanku mengapa Engkau siksa aku dengan siksaan yang sama sekali tidak Engkau siksaan kepada anggota yang lain??? Tuhan mejawab, Darimu telah keluar perkataan yang bisa mencapai paling timur dan paling barat bumi,sehingga mengakibatkan dialirkannya darah yang haran(dialirkan), diambilnya harta yang haram(diambil), dan dirusaknya kehormatan farji yang haram(dirusak), maka demi kejayaan-Ku,sungguh akan Aku timpakan kepadamu siksaan yang sama sekali tidak Aku timpakan kepada anggota tubuh yang lain ”
(HR. Abu Na’im)


Pelajaran yang dapat diambil buat pegangan hidup :

1.Kalau kita tidak bisa berbicara yang benar lebih baik diam (la yaqro’u khoiron A’uliyasmud)
2.Perkataan yang buruk lebih tajam daripada pedang yang menusuk hati
3.Maka kita harus hati – hati dalam berbicara
4.Dusta pertama akan mengajak dusta yang berikutnya untuk menutupi dusta yang pertama
5.Kita bukan malaikat melainkan manusia yang tempatnya salah dan dosa, oleh karenanya taubat dan istighfar, introspeksi kita membutuhkannya.
6.Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi ana (Al-fakir wa adh - dhoif) sendiri dan teman – teman sekalian

Wabillahhi Taufiq wal hidayah

Sunday, 3 August 2008

Silaturahmi

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa’:1)
Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia bersilaturahmi.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Ayat dan hadis diatas menganjurkan kepada kita untuk melakukan silaturahmi. Silaturahmi secara bahasa berasal dari dua kata silatun yang berarti menyambung dan rahmi yang berarti rahim. Rahim adalah tempat tumbuh anak dalam perut seorang ibu. Allah SWT berfirman yang artinya, “Allah mengetahui apa saya yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (Ar-Ra’d: 8)

Kata rahmi ini kemudian mengandung kepada dua pengertian. Pertama, kerabat secara umum, yaitu orang-orang yang ada nasab degan kita. Kedua, kerabat yang mahram, yaitu para kerabat yang diharamkan bagi kita untuk mengadakan pernikahan dengannya.
Dengan demikian sillaturrahmi adalah menyambung hubungan kerabat, baik yang mahram maupun yang bukan mahram.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Silaturahmi adalah amalan yang pahalanya besar di sisi Allah. Allah swt juga menjanjikan keluasan rizqi dan keberkahan umur bagi mereka yang melakukan silaturahmi. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa yang suka diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia melakukan silaturahmi.”
Disamping itu, silaturahmi juga merupakan buah dari iman, sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia melakukan silaturahmi.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Silaturahmi hendaknya juga kita lakukan terhadap orang-orang yang telah memutuskan hubungannya dengan kita. Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, saya mempunyai kerabat, saya menyambungnya padahal mereka telah memutuskanku, saya berbuat baik kepadanya padahal mereka telah berbuat buruk kepadaku dan saya bersabar (bermurah hati) kepadanya padahal mereka telah membodohiku?” Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu sebagaimana yang kamu katakan, maka seakan-akan engkau telah menempelkan abu panas kepada mereka dan kemenangan dari Allah atas mereka akan masih bersamamu selama engkau dalam keadaan seperti itu.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Islam melarang kita memutuskan silaturahmi ini. Karena memutuskan silaturahmi termasuk dosa besar. Bagi mereka yang melakukannya akan terhalang masuk surga. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, 'Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan ikatan rahim.” (HR Bukhori Muslim)
Barang siapa memutuskan hubungan dengan kerabat yang lemah, mengisolasi mereka, bersikap takabur kepadanya dan tidak berbuat baik kepada mereka, padahal ia kaya sedangkan mereka fakir, maka ia termasuk katagori yang diancam dengan hadis di atas, terhalang masuk surga kecuali jika bertaubat kepada Allah lalu berbuat baik kepada mereka.

Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa mempunyai kerabat yang lemah lalu tidak berbuat baik dan mengalokasikan sedekahnya kepada selain merkea, niscaya Allah tidak akan menerima sedekahnya dan tidak akan memandangnya pada hari kiamat. Barang siapa dalam keadaan fakir, hendaklah menyambung (ikatan rahim) dengan mengunjungi mereka dan selalu menanyakan kabar mereka.”

Dalam hadis yang lain Nabi saw. bersabda yang artinya, “Sambunglah ikatan rahim kalian walaupun hanya dengan ucapan salam.”

“Orang yang menyambung itu bukanlah mukafi (orang yang melakukanya jika kerabatnya terlebih dahulu melakukan hal itu kepadanya), akan tetapi orang yang menyambung adalah orang yang jika kamu memutuskan hubungan darinya ia menyambungnya. “ (HR Bukhari)

Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman yang artinya, "Aku adalah ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan dia adalah ikatan rahim. Barang siapa yang menyambungnya, Aku pun menyambung hubungan dengannya. Dan barang siapa yang memutuskannya, Aku pun memutuskan hubungan darinya." (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita orang-orang yang senantiasa melakukan silaturahmi. Amin. Wallaahu a'lam bish showaab

Tuesday, 29 July 2008

Silaturahmi

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisaa’:1)
Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia bersilaturahmi.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Ayat dan hadis diatas menganjurkan kepada kita untuk melakukan silaturahmi. Silaturahmi secara bahasa berasal dari dua kata silatun yang berarti menyambung dan rahmi yang berarti rahim. Rahim adalah tempat tumbuh anak dalam perut seorang ibu. Allah SWT berfirman yang artinya, “Allah mengetahui apa saya yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (Ar-Ra’d: 8)

Kata rahmi ini kemudian mengandung kepada dua pengertian. Pertama, kerabat secara umum, yaitu orang-orang yang ada nasab degan kita. Kedua, kerabat yang mahram, yaitu para kerabat yang diharamkan bagi kita untuk mengadakan pernikahan dengannya.
Dengan demikian sillaturrahmi adalah menyambung hubungan kerabat, baik yang mahram maupun yang bukan mahram.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Silaturahmi adalah amalan yang pahalanya besar di sisi Allah. Allah swt juga menjanjikan keluasan rizqi dan keberkahan umur bagi mereka yang melakukan silaturahmi. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa yang suka diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia melakukan silaturahmi.”
Disamping itu, silaturahmi juga merupakan buah dari iman, sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia melakukan silaturahmi.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Silaturahmi hendaknya juga kita lakukan terhadap orang-orang yang telah memutuskan hubungannya dengan kita. Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, saya mempunyai kerabat, saya menyambungnya padahal mereka telah memutuskanku, saya berbuat baik kepadanya padahal mereka telah berbuat buruk kepadaku dan saya bersabar (bermurah hati) kepadanya padahal mereka telah membodohiku?” Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu sebagaimana yang kamu katakan, maka seakan-akan engkau telah menempelkan abu panas kepada mereka dan kemenangan dari Allah atas mereka akan masih bersamamu selama engkau dalam keadaan seperti itu.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Islam melarang kita memutuskan silaturahmi ini. Karena memutuskan silaturahmi termasuk dosa besar. Bagi mereka yang melakukannya akan terhalang masuk surga. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, 'Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan ikatan rahim.” (HR Bukhori Muslim)
Barang siapa memutuskan hubungan dengan kerabat yang lemah, mengisolasi mereka, bersikap takabur kepadanya dan tidak berbuat baik kepada mereka, padahal ia kaya sedangkan mereka fakir, maka ia termasuk katagori yang diancam dengan hadis di atas, terhalang masuk surga kecuali jika bertaubat kepada Allah lalu berbuat baik kepada mereka.

Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa mempunyai kerabat yang lemah lalu tidak berbuat baik dan mengalokasikan sedekahnya kepada selain merkea, niscaya Allah tidak akan menerima sedekahnya dan tidak akan memandangnya pada hari kiamat. Barang siapa dalam keadaan fakir, hendaklah menyambung (ikatan rahim) dengan mengunjungi mereka dan selalu menanyakan kabar mereka.”

Dalam hadis yang lain Nabi saw. bersabda yang artinya, “Sambunglah ikatan rahim kalian walaupun hanya dengan ucapan salam.”

“Orang yang menyambung itu bukanlah mukafi (orang yang melakukanya jika kerabatnya terlebih dahulu melakukan hal itu kepadanya), akan tetapi orang yang menyambung adalah orang yang jika kamu memutuskan hubungan darinya ia menyambungnya. “ (HR Bukhari)

Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman yang artinya, "Aku adalah ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan dia adalah ikatan rahim. Barang siapa yang menyambungnya, Aku pun menyambung hubungan dengannya. Dan barang siapa yang memutuskannya, Aku pun memutuskan hubungan darinya." (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita orang-orang yang senantiasa melakukan silaturahmi. Amin.
Wallaahu a'lam bish showaab

'Ayah, bolehkah aku berpacaran?

'Ayah, bolehkah aku berpacaran?

ABSTRACT:
Mungkin ada diantara kita selaku orangtua yang tidak mampu bersikap tegas dalam menyampaikan ajaran Islam,terutama yang berhubungan dengan psikoseksual remaja.
Kita 'malu' menyampaikan kebenaran, padahal itu adalah kewajiban kita untuk menyampaikannya dan hak mereka untuk mengetahuinya. 'Ayah, bolehkah aku berpacaran? 'mungkin salah satu pertanyaan yang lambat laun akan menyergap kita. Salah satu jawaban yang cerdas, memuaskan dan tepat, mungkin dapat kita simak dari artikel di bawah ini.
Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk memberikan yang terbaik kepada putra-putri kita, yaitu pendidikan yang baik dan adab yang mulia.


Seorang ayah, bila ia mempunyai putra yang beranjak remaja, lambat atau cepat ia akan disergap oleh pertanyaan seperti ini: 'Ayah, bolehkah aku berpacaran?'
Pengertian “berpacaran” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bercintaan, berkasih-kasihan.

Sebagai Ayah yang baik, kita sudah seharusnya sejak jauh hari berusaha menyiapkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tak terduga seperti itu. Namun seringkali kita tidak siap dengan jawaban ketika pertanyaan tadi terlontar dari mulut anak kita.
Seorang ayah mempunyai posisi strategis. Ayah tidak saja menjadi pemimpin bagi keluarganya, seorang ayah juga seharusnya bisa menjadi teman bagi anak-anaknya, menjadi narasumber dan guru bagi anak-anaknya.

'Tiada pemberian seorang bapak terhadap anak-anaknya yang lebih baik dari pada (pendidikan) yang baik dan adab yang mulia.' (HR At-Tirmidzy)

'Barangsiapa yang mengabaikan pendidikan anak, maka ia telah berbuat jahat secara terang-terangan ...' Ibnu Qayyim.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai bertangungjawaban terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang suami (ayah) adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka. HR Muslim).

Ada sebuah contoh yang datangnya dari keluarga Pak Syamsi. Ketika Iwan anak remajanya bertanya soal berpacaran, Pak Syamsi yang memang sudah sejak lama mempersiapkan diri, dengan santai memberikan jawaban seperti ini: 'Boleh nak, sejauh berpacaran yang dimaksud adalah sebagaimana yang terjadi antara Ayah dan Bunda' Pak Syamsi menjelaskan kepada Iwan, bahwa berpacaran adalah menjalin tali kasih, menjalin kasih sayang, dengan lawan jenis, untuk saling kenal-mengenal, untuk sama-sama memahami kebesaran Allah di balik tumbuhnya rasa kasih dan sayang itu.
Oleh karena itu, berpacaran adalah ibadah. Dan sebagai ibadah, berpacaran haruslah dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah, yaitu di dalam lembaga perkawinan.

Di dalam sebuah Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya.” 'Di luar ketentuan tadi, maka yang sesungguhnya terjadi adalah perbuatan mendekati zina, suatu perbuatan keji dan terkutuk yang diharamkan ajaran Islam (Qs. 17:32).

Allah SWT telah mengharamkan zina dan hal-hal yang bertendensi ke arah itu, termasuk berupa kata-kata (yang merangsang), berupa perbuatan-perbuatan tertentu (seperti membelai dan sebagainya).' Demikian penjelasan Pak Syamsi kepada Iwan anak remajanya.


"DI DALAM LEMBAGA PERKAWINAN, ANANDA BISA BERPACARAN DENGAN BEBAS DAN TENANG, BISA SALING MEMEMBELAI DAN MENGASIHI, BAHKAN LEBIH JAUH DARI ITU, YANG SEMULA HARAM MENJADI HALAL SETELAH MENIKAH, YANG SEMULA DIHARAMKAN TIBA-TIBA MENJADI HAK BAGI SUAMI ATAU ISTRI YANG APABILA DITUNAIKAN DENGAN IKHLAS KEPADA ALLAH AKAN MENDATANGKAN PAHALA." Demikian penjelasan pak Syamsi kepada Iwan.

"Namun jangan lupa, sambung pak Syamsi, "ISLAM MENGAJARKAN DUA HAL YAITU MEMENUHI HAK DAN KEWAJIBAN SECARA SEIMBANG. DI DALAM LEMBAGA PERKAWINAN, KITA TIDAK SAJA BISA MENDAPATKAN HAK-HAK KITA SEBAGAI SUAMI ATAU ISTERI, NAMUN JUGA DITUNTUT UNTUK MEMENUHI KEWAJIBAN, MENAFKAHI DENGAN LAYAK, MEMBERI TEMPAT BERNAUNG YANG LAYAK, DAN YANG TERPENTING ADALAH MEMBERI PENDIDIKAN YANG LAYAK BAGI ANAK-ANAK KELAK ..."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Seorang yang membina anaknya adalah lebih baik daripada ia bersedekah satu sha' ... (HR At-Tirmidzy).

"Nah, apabila ananda sudah merasa mampu memenuhi kedua hal tadi, yaitu hak dan kewajiban yang seimbang, maka segeralah susun sebuah rencana berpacaran yang baik di dalam sebuah lembaga perkawinan yang dicontohkan Rasulullah..." Demikian imbuh pak Syamsi.

Seringkali kita sebagai orangtua tidak mampu bersikap tegas di dalam menyampaikan ajaran Islam, terutama yang sangat berhubungan dengan perkembangan psikoseksual remaja. Seringkali kita 'malu' menyampaikan kebenaran yang merupakan kewajiban kita untuk menyampaikannya, sekaligus merupakan hak anak untuk mengetahuinya. Sebagai anak, seorang Iwan memang harus mempunyai tempat yang cukup layak untuk menumpahkan aneka pertanyaannya. Sebagai lelaki muda, yang ia butuhkan adalah sosok ayah yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan cerdas, memuaskan, dan tepat. Seorang ayah yang mampu menjawab pertanyaan bukan dengan marah-marah. Berapa banyak remaja seperti Iwan diantara kita yang tidak punya tempat bertanya yang cukup layak?

Bagi seorang Iwan, sebagaimana dia melihat kenyataan yang terjadi di depan matanya, berpacaran adalah memadu kasih diantara dua jenis kelamin yang berbeda, sebuah ajang penjajagan, saling kenal diantara dua jenis kelamin berbeda, antara remaja putra dengan remaja putri, yang belum tentu bermuara ke dalam lembaga perkawinan. Hampir tak ada seorang pun remaja seperti Iwan yang mau menyadari, bahwa perilaku seperti itu adalah upaya-upaya mendekati zina, bahkan zina itu sendiri!

Celakanya, hanya sedikit saja diantara orangtua yang mau bersikap tegas terhadap perilaku seperti ini.
Bahkan, seringkali sebagian dari orangtua kita justru merasa malu jika anaknya yang sudah menginjak usia remaja belum juga punya pacar. Sebaliknya, begitu banyak orangtua yang merasa bangga jika mengetahui anaknya sudah punya pacar. 'Berapa banyak kejahatan yang telah kita buat secara terang-terangan ...?'

Di sebuah stasiun televisi swasta, ada program yang dirancang untuk mempertemukan dua remaja berlawanan jenis untuk kelak menjadi pacar. Di stasiun teve lainnya ada sebuah program berpacaran (dalam artian perbuatan mendekati zina) yang justru diasosiasikan dengan heroisme, antara lain dengan menyebut para pelakunya (para pemburu pacar) sebagai "pejuang." Dan bahkan para "pejuang" ini mendapat hadiah berupa uang tunai yang menggiurkan anak-anak remaja. Perilaku para "pejuang" ini disaksikan oleh banyak remaja, sehingga menjadi contoh bagi mereka.

Makna pejuang telah bergeser jauh dari tempatnya semula. Seseorang yang melakukan perbuatan mendekati zina disebut "pejuang." Hampir tidak pernah kita mendengar ada seorang pelajar yang berprestasi disebut pejuang. Jarang kita dengar seorang atlet berprestasi disebut pejuang.

Semoga bermanfaat.